Exhibition starting today until 14 of October at Rutgers Chaps University, New Jersey, USA.
Braga Project, usulan untuk perbaikan kawasan Braga berdasarkan kondisi aktual.
Posternya sudah sampai ke Amerika, semoga orangnya segera menyusul :)
Wish I were there :(
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Jumat, 12 Oktober 2012
Senin, 08 Oktober 2012
202 Tahun Bandung
Dirgahayu
Bandung ke-202, 25 September 2012. Selama lebih dari 200 tahun perjalanan,
sudah menjadi apakah kota ini? Semakin sehat atau semakin sakit? Akan dibawa ke
mana ia di tahun-tahun mendatang?
Bandung selalu
mengundang. Pesonanya yang rapuh selalu mampu membawa orang datang ke kota ini
entah untuk tinggal maupun sekedar singgah. Beberapa tahun terakhir, Bandung
berubah menjadi semakin metropolitan dengan bermunculannya struktur-struktur
tinggi di berbagai bagian kota yang seolah tanpa rencana. Atau memang tidak
terencana?
WHO (2001) mengidentifikasi
sebelas kriteria kota sehat, yaitu,
bahwa kota harus merupakan lingkungan fisik yang aman, bersih, berkualitas
tinggi; ekosistem yang stabil dan berdaya dukung untuk jangka panjang; komunitas
yang kuat dan saling mendukung; memiliki tingkat partisipatif dan kontrol publik
yang tinggi terhadap berbagai kebijakan yang mempengaruhi hidup, kesehatan, dan
kesejahteraan warganya; adanya pemenuhan kebutuhan dasar untuk semua warga
kota; adanya akses yang luas kepada pengalaman hidup dan sumber daya kota
dengan berbagai kesempatan terhadap kontak sosial, interaksi dan komunikasi;
ekonomi kota yang inovatif, vital dan beragam; adanya dorongan untuk selalu
berhubungan dengan sejarah, warisan biologis dan warisan budaya warga kota;
kompatibel dan mampu meningkatakan karakteristik kota yang telah ada; adanya
pelayanan optimum terhadap kesehatan masyarakat yang layak bagi semua warga
yang sakit; memiliki status kesehatan yang baik. Kehilangan satu dari kriteria
tersebut, maka berarti tingkat kesehatan kota tersebut menurun. Bagaimana
dengan Bandung?
Dari sebelas kriteria
tersebut, berapa yang bisa dipenuhi oleh Bandung? Akan terlalu panjang untuk
mengulas ke-11 kriteria kota sehat tersebut satu per satu. Penulis akan
berfokus pada beberapa poin kriteria dalam pembahasan ini, yaitu, yang pertama adalah
lingkungan fisik yang aman, bersih, berkualitas. Tingkat keamanan di Bandung
menurun. Di surat kabar cukup sering ditemukan surat pembaca yang isinya meminta
agar surat-surat berharga yang “terambil” orang dikembalikan pada pemiliknya.
Pun demikian dengan kebersihan. Cukup banyak ulasan berita dan foto terpampang
menunjukkan tumpukan sampah di pinggir jalan. Hal ini diperparah sikap warga bermental
sampah. Mereka menganggap ruang kota sebagai tempat sampah besar sehingga
dengan bebasnya melempar berbagai sampah dari dalam mobil ke jalan atau sungai.
Belum lagi masalah air bersih yang terbatas.
Poin berikutnya “adanya
akses yang luas kepada pengalaman hidup dan sumber daya kota dengan berbagai
kesempatan terhadap kontak sosial, interaksi dan komunikasi”. Banyak apartemen
dan hotel tinggi sekarang tengah dibangun. Hunian-hunian vertikal berdiri megah
di berbagai sudut kota tanpa pengaturan yang jelas. Rumah-rumah cul-de-sac pun
semakin merajalela. Dinding kokoh membenteng rumah-rumah mewah yang pada
akhirnya memutus komunikasi antara penghuni yang sebetulnya saling bertetangga
dan semakin menampakkan kesenjangan sosial yang memang sudah tampak. Pengalaman hidup di kota pun menjadi semakin monoton
dengan berdirinya mal-mal baru. Meskipun banyak mal gagal menarik simpati
pengunjung, selalu muncul mal baru di sisi kota yang lain. Interaksi sosial dan
komunikasi menjadi barang langka. Orang hanya sekedar saling melihat tanpa
perasaan di dalam mal. DK Halim dalam Psikologi Lingkungan Perkotaan (2008)
menyatakan bahwa banyaknya mal bukanlah tanda peningkatan ekonomi suatu kota
tetapi tanda sakitnya suatu kota. Benih-benih perpecahan pun bermunculan
didukung oleh individualisasi warga kota dalam hunian vertikal dan mal.
Juga penting
untuk melihat “adanya dorongan untuk selalu berhubungan dengan sejarah, warisan
biologis dan warisan budaya warga kota” yang terkait erat dengan poin “kompatibel
dan mampu meningkatkan karakteristik kota yang telah ada”. Warga kota yang baik
dan sehat adalah warga yang peduli dengan sejarah dan budaya kotanya. Disitulah kedinamisan budaya berkembang. Kota yang tidak
peduli dengan sejarahnya sama seperti orang yang mengalami hilang ingatan.
Sejarah dan budaya kota membentuk karakter kota tersebut. Warga kota harus
dapat melihat perkembangan kotanya melalui lapisan-lapisan kota yang terbentuk.
Bandung memiliki
karakter kuat sebagai kota abad 20 yang dibangun sangat terencana dengan
perkembangan pesat. Kota ini membutuhkan
orang-orang kompeten yang mampu meningkatkan karakteristik kota yang telah ada.
Namun yang terjadi saat ini adalah ketidak-kompetenan mengambil alih kota
secara paksa sehingga karakter kota yang khas berkurang dari hari ke hari
digantikan apartemen dan hotel-hotel mewah.
Lihat saja
kawasan Braga yang gedung-gedung berarsitektur art-deconya berguguran satu demi
satu. Dimulai dengan munculnya Braga city walk yang menjadi mal sepi
pengunjung, disusul dengan hotel Genuci berlantai lima belas, dan sebentar lagi
hotel Ibis berlantai entah berapa belas. Karakter Braga yang ramah pejalan kaki
dan aman semakin menghilang. Belum lagi jalan andesit yang bermasalah. Daripada
membuat Braga sekarat dalam waktu tak terbatas, apakah tidak lebih baik jika
kawasan ini di-euthanasia saja sekalian?
Bandung 202 tahun rupanya belum mendapat perhatian layak dari warga dan
para pemangku jabatannya. Ia dipaksa menjual diri untuk kepentingan komersil
kalangan tertentu. Meskipun pamornya tak pernah turun, ia kelelahan dan
terbebani. Untungnya semakin banyak anak-anak Bandung yang berkarya untuk
menyelamatkannya. Rupanya, “hantu-hantu” Bandung baheula tetap menebar
pesonanya (penulis, PR 2011).
Selasa, 01 Mei 2012
"Quo vadis" Perda Cagar Budaya?
Foto ini adalah artikel yang terbit 19 April 2012 di HU Pikiran Rakyat. Di bawah adalah tulisan asli yang saya kirim ke redaksi berikut revisinya.
Tanggal 18 April
adalah hari monumen dan situs internasional yagn ditetapkan oleh ICOMOS
(International Council on Monuments and Sites). Kota Bandung yang merupakan
kota dengan kekayaan budaya dan kekayaan monumen abad 20 dan kekayaan situs
bersejarah lainnya meryakannya dengan penghancuran gedung-gedung tua pembentuk
wajah kota dan penelantaran situs-situs.
Belum lama ini
berita pembongkaran SMAK Dago muncul di media. Bangunan yang berdiri
berdampingan dengan SMAN 1 Bandung, yang juga merupakan gedung tua, tersebut
telah kehilangan atapnya. Sungguh mengejutkan, mengingat belum lama ini lahan
dan bangunan disengketakan oleh orang-orang yang berkepentingan. Sudah
selesaikah sengketa tersebut?
Terlepas dari
permasalahan sengketa, Kota Bandung sudah memiliki Perda dan Perwal mengenai
perlindungan kawasan dan cagar budaya. Rupanya aturan-aturan ini tak bergigi
menghadapi para investor yang minim kepedulian terhadap lingkungan.
Penulis
mengangkat berita pembongkaran SMAK Dago sebagai pemenuhan Hak dan Kewajiban penulis
selaku warga kota yang telah menghuni kota ini sejak lahir untuk:
“menikmati keberadaan kawasan dan/atau
bangunan cagar budaya; memperoleh informasi yang berkaitan dengan pengelolaan
dan/atau bangunan cagar budaya; berperan
serta dalam rangka pengelolaan kawasan dan/atau bangunan cagar budaya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan” pasal 7 Perda no. 19 thn 2009.
“...menjaga kelestarian kawasan dan/atau
bangunan cagar budaya serta mencegah dan menanggulangi kerusakan kawasa
dan/atau bangunan cagar budaya” pasal 8 Perda no. 19 thn 2009.
Pembongkaran
terhadap suatu “monumen” yang diduga memiliki nilai kesejarahan, menurut Perda
dan Perwal, ijinnya hanya bisa dikeluarkan oleh Walikota. Namun, mengingat UU
no. 11 tahun 2012 2010 mengenai
Cagar Budaya, pemerintah kota maupun pemerintah daerah tidak berhak
mengeluarkan ijin pembongkaran. Dalam UU tersebut tercantum tugas-tugas
pemerintah berkaitan dengan perlindungan cagar budaya. Dengan kata lain,
bukankah ini artinya Perwal tadi telah melanggar undang-undang yang ada?
Bukankah seharusnya dengan adanya UU Cagar Budaya, semua peraturan yang
melanggar UU tersebut gugur dengan sendirinya? Di sini saya perlu bantuan ahli
hukum untuk meluruskan pemahaman saya.
Kembali ke SMAK
Dago, apakah pihak pembongkar sudah mengajukan permohonan ijin pembongkaran?
Mengingat sebuah sekolah merupakan fasilitas publik yang boleh, dan seharusnya
bisa, dinikmati publik secara terbuka. Jika belum, maka telah terjadi
pelanggaran terhadap UU no. 10 tahun 2010 no. 11 tahun 2010, Perda no.
19 thn 2009 dan Perwal.
Pihak pemilik,
penghuni, dan pengelola SMAK Dago dan gedung-gedung tua lain, serta situs-situs
di seluruh Bandung ini sebetulnya memiliki kewajiban dan hak untuk:
“...memelihara kelestarian kawasan dan/atau
bangunan cagar budaya; ... yang melaksanakan pemugaran sesuai dengan ketentuan
dan peraturan yang berlaku, berhak mendapat kemudahan perijinandan/atau
insentif pembangunan lainnya, yang ditetapkan dengan perwal” pasal 9 Perda no. 19 tahun 2009.
“...melindungi, memelihara dan melestarikan
lingkungan dan bangunan cagar budaya tersebut; ...wajib melaksanakan
pemeliharaan atau pemugaran sesuai dengan ketentutan yang berlaku...” pasal
10 Perda no. 19 tahun 2009. Bahkan kewajiban tersebut tidak gugur ketika
terjadi sengketa. Bagi kawasan dan cagar budaya yang telah ditetapkan,
perpindahan kepemilikan tidak mengubah status kawasan atau CB tersebut. Bahkan
penelantaran pun, seperti yang terjadi terhadap banyak CB seperti ex Au Bon
Marché, merupakan sebuah pelanggaran peraturan.
Dalam
pelaksanaan pelestarian, pemerintah daerah dapat melakukan penataan dalam
kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Kawasan Dago
termasuk di antaranya. Hal lainnya adalah bahwa pengendalian kawasan dan/atau
bangunan cagar budaya harus sesuai dengan rencana kota, dan sebaliknya
rencana kota harus menunjang pelestarian kawasan dan/atau bangunan cagar budaya
(Pasal 21 Perda no 19 tahun 2009). Mungkin bisa disimpulkan dari kalimat
tersebut, bahwa rencana kota yang mengancam perlindungan cagar budaya bukanlah
rencana kota yang bervisi dan bukan rencana yang baik dan benar, karena
melanggar perdanya sendiri?
Satu
permasalahan lagi adalah penggolongan kawasan dan cagar budaya. Dalam UU no.
10 tahun 2010 no. 11 tahun 2010, penggolongan CB hanya didasarkan pada
kriteria daerah (lokal), provinsi, dan nasional. Dalam Perda dan Perwal kota
Bandung masih terdapat penggolongan A, B, C dan seterusnya yang sebetulnya
menyalahi inti dari pelestarian. Kalau mau melestarikan ya lestarikan saja.
Masalah lainnya
muncul kemudian, ketika pemilik lama CB menjual propertinya pada investor yang
tidak peduli lingkungan. Tidak salah untuk menjual properti pada pihak lain,
tetapi alangkah baiknya jika pemilik tersebut memilih investor yang peduli
lingkungan. Beberapa perusahaan (investor) yang peduli lingkungan diantaranya
BJB, OCBC NISP, BTPN, PT. KAI, dan mungkin institusi militer? Saya belum
melihat investor lain yang cukup memiliki kepedulian terhadap lingkungan urban
dan kota tua. Semoga saja lebih banyak lagi investor seperti
perusahaan-perusahaan tersebut agar Bandung tidak penuh oleh bangunan belasan
lantai yang mengambil hak air dan matahari warga sekitarnya, seperti yang sudah
terjadi di Braga dan mungkin juga di tempat-tempat lain.
Selamat hari
monumen dan situs internasional. Mari bersama selamatkan Bandung.
Senin, 02 Januari 2012
Musikal Lutung Kasarung - ulasan pribadi
Saya sebetulnya ingin mengulas sejak beberapa hari yang lalu. Sayang, jaringan internet yang jelek menghambat. Maka inilah posting pertama saya di tahun 2012.
Di bumi pergolakan tengah terjadi. Sang raja mangkat. Putri-putrinya yang berjumlah tujuh diperintahkan menjaga wasiatnya. Purbasari, putri termuda harus naik takhta. Purbararang, putri tertua memegang tampuk kekuasaan hingga si bungsu beranjak dewasa.
Namun kekuasaan membutakan sang kakak. Ia pun mengupayakan berbagai cara untuk menyingkirkan sang adik. Jodoh memang tak akan ke mana. Putri kecil dikirim ke hutan dan akhirnya bertemu sang Lutung, jelmaan Guruminda. Lutung pun membantu putri kembali ke takhta. Dan ia pun, karena ketulusannya, dibebaskan dari hukuman untuk memimpin negeri bersama Purbasari.
Cerita dibalut sentuhan modern dengan sedikit nyepet-nyepet keadaan di negeri ini. Alunan musik, nyanyian dan tarian dalam musikal ini tertata apik diselingi nuansa etnik yang kental sungguh sangat menghibur. Diselingi humor-humor ringan dalam bahasa Sunda, teater musikal ini seharusnya menjadi tontonan rutin masyarakat. Duet jaipong tukang bubur dan istrinya betul-betul luar biasa, paporit pokona mah. Vokal para pemain pun sangat baik. Vokal terbaik favorit saya adalah Sunan Ambu dalam balutan kostum yang sangat indah dan megah. Ngomong-ngomong kostum, mahkota lutung mengingatkan saya pada Raja Julian Si Ekor Cincin dari Madagaskar hehe
Dengan harga tiket yang lumayan tinggi, agak sulit bagi masyarakat biasa bahkan untuk sekedar berpikir menyaksikan pertunjukan ini. Mungkinkah jika pertunjukan dibuat rutin harga tiket dapat diturunkan? Tapi kasihan juga para pemainnya.
Hal yang mengganjal dalam pertunjukan adalah penempatan panggung yang besar sehingga hampir memakan seluruh ruang Sabuga. Penonton kelas 2 nyaris tak dapat melihat apa-apa kecuali stager-stager. Untuk 150 ribu rupiah, hanya dapat melihat stager adalah hal yang sangat mengecewakan.
Hal lain yang mengganggu adalah presentasi seluruh kru pendukung pertunjukan di akhir acara. Seluruh kru pendukung belakang layar ditampilkan satu per satu, sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting. Mungkin maksudnya adalah untuk memberikan penghargaan pada tiap kru, tetapi justru menjadi bagian yang paling mengganggu dan membosankan penonton. Cukuplah penghargaan terhadap kru disebutkan secara sekilas, diwakili oleh para pemain yang muncul serempak dan memberikan salam akhir pada penonton. Setidaknya itulah yang saya lihat ketika menonton teater di Jerman, sehingga tepuk tangan penonton pun terdengar meriah dan membahana di seluruh ruang teater. Tentunya mendengar tepukan tangan meriah dari penonton akan lebih membanggakan bagi pemain dan kru. Hal yang tidak terdengar di Sabuga karena musik terus mengalun dan MC terus menyebutkan nama-nama tanpa henti. Akhirnya tepuk tangan kami kasilep alunan musik, dan kami pun menjadi agak malas bertepuk tangan berkali-kali.
Secara keseluruhan, musikal ini wajib ditonton oleh masyarakat Sunda. Karena masyarakat Sunda terbentang dari Jawa Barat hingga Banten. Dua jempol untuk lutung.
*n.b. Poster diunduh dari situs resmi Musikal Lutung Kasarung.
Jumat, 14 Januari 2011
Fenomena topeng monyet
Baru saja saya membaca tulisan berjudul waralaba topeng monyet. Satu tulisan yang menarik. Saya baru tahu kalau ternyata kemunculan topeng monyet ini sudah berlangsung hampir 2 tahun. Maklum, ketika itu sedang merantau. Sementara topeng monyet menjamur, anak jalanan, pengamen dan pengemis berkurang drastis.
Hampir di setiap perempatan jalan, di sudut lampu merah bisa ditemui topeng monyet. Atraksi yang ditampilkan rata-rata sama, tak ada keunikan antara satu dengan yang lain. Kembali ke tulisan tentang waralaba topeng monyet tadi, seandainya para pelaku lebih kreatif dan menyajikan atraksi yang berbeda di setiap tempat, tentu para pengguna jalan akan lebih terhibur. Seperti dibahas di tulisan ini. Saya sebetulnya kasihan dengan monyetnya. Mereka dieksploitasi sedemikian rupa. Dari mana pula orang-orang itu mendapatkan monyet-monyet?
Ketika saya menjalani wawancara untuk satu developer besar, ternyata sang pewawancara - manajer HRD perusahaan tersebut - aktif bergiat di dunia sosial yang berhubungan dengan masyarakat kelas bawah. Saya pun bertanya padanya tentang fenomena topeng monyet ini. Menurutnya, topeng monyet muncul karena anak jalanan dan pengemis, sebagai salah satu metoda mencari uang sudah kehilangan simpati masyarakat umum. Dengan kata lain, masyarakat umum sudah tidak tergerak hatinya ketika melihat anak-anak jalanan dan pengemis. Tentunya ini berbanding lurus dengan penghasilan yang mereka peroleh. Mudah ditebak bahwa rupanya pendapatan menurun dari sektor ini. Singkat kata para pelaku mencari alternatif lain dan pilihan pun jatuh pada topeng monyet.
Sebetulnya saya lebih terhibur oleh para pengamen di Bandung yang bisa dikatakan kreatif. Sayangnya kreativitas itu tampaknya menurun. Dulu di salah satu perempatan, ada pengamen calung yang membawakan lagu-lagu berbahasa Sunda. Menurut saya unik dan menarik. Sayangnya lagu-lagu yang dibawakan sering kali berlirik vulgar. Coba dia menyanyikan lagu Sunda yang lebih baik liriknya, mungkin bisa saya rekomendasikan ke sanggar seni.
Kembali ke topeng monyet, hari ini saya tak melihat topeng monyet di beberapa perempatan tempat mangkal mereka. Entah apa yang terjadi. Apakah penghsilan mereka menurun ataukah mereka terkena pelarangan tampil. Bagaimanapun, topeng monyet masih lebih baik daripada mengemis, apalagi menyuruh anak-anak mengemis.
Senin, 29 November 2010
Antara Bandung dan Weltevreden, Belanda gagal memindahkan ibukota, benarkah?
Pagi ini saya mengikuti sebuah kuliah umum oleh seorang sejarawan arsitektur dari TU Delft, Belanda. Nama pembicara adalah Pauline van Roosmalen. Beliau menyampaikan paparan disertasinya mengenai sejarah rancang kota (atau dalam bahasa Inggris populer dengan nama Town Planning) di Dutch East Indies (DEI) dan Indonesia. Rentang periode yang diambil adalah 1905-1951.
Dari hasil kajiannya mengenai sejarah rancang kota di Nusantara, pada akhir sesi, saat menjawab satu pertanyaan yang berkaitan dengan konservasi, van Roosmalen menyatakan bahwa upaya konservasi adalah sebuah kegiatan yang kompleks karena menyangkut berbagai lapisan urban. Kemudian ia juga menyampaikan, sebagai contoh (untuk jawaban dari pertanyaan yang lain) bahwa pemerintah Hindia Belanda telah gagal dalam memindahkan ibukota dari Weltevreden ke Bandung.
Namun benarkah upaya itu gagal? Apa sebenarnya yang menyebabkan kegagalannya? Mari kita lihat sama-sama.
Jadi, keinginan pimpinan DEI untuk pindah ke Bandung sudah ada sejak tahun 1825. Saat itu Bandung masih merupakan kampung atau desa dengan jumlah penduduk yang bisa dihitung dengan jari yang kemudian berkembang dengan puat kota model Jawa lengkap dengan alun-alunnya. Kemudian jalan pos dibangun, menyusul kemudian rel kereta api.
Perencanaan Bandung yang sesungguhnya baru dimulai pada tahun 1917 dengan rancangan perluasan kota yang dibuat oleh F.J.L. Ghijsels. Dalam rancangan ini, oleh karena pemerintah DEI merencanakan Bandung sebagai pusat pemerintahan yang baru, maka rancangan kota pun dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti pusat komando militer. Kota Bandung bahkan dilengkapi dengan area pendidikan tinggi sebagai salah satu penerapan politik etis yang berlaku saat itu. Bandung, menurut van Roosmalen, memiliki rancangan kota paling menyeluruh dibanding rancangan kota-kota lain karya pemerintah Belanda di Indonesia.
Peta Bandung Lama
Rancangan perluasan Bandung di utara pusat kota lama memiliki luasan lebih besar dibanding pusat kota lama beralun-alun di selatan kota. Pada tahun 1929 rancangan kota Bandung diperbarui oleh G. Hendriks. Namun sayang, rancangan ini tak bisa dilaksanakan karena krisis yang melanda dunia ketika itu. Tahun 1938, penambahan rancangan kembali dilakukan. Kembali, nasib malang menimpa DEI, empat tahun kemudian perang dunia ke-2 pecah dan rencana pemindahan ibukota ke Bandung ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan.
Proses perancangan dan pembangunan sebuah kota adalah proses panjang yang memakan waktu bertahun-tahun. Pemerintah DEI merancang Bandung dari nol, dari lahan kosong yang tidak berpenghuni (berpenghuni sedikit). Ketika pembangunan dimulai, maka warga pun mulai berdatangan karena tertarik dengan kota baru yang menawarkan berbagai fasilitas dan nilai-nilai lebih seperti udara yang lebih sehat dan segar. Kota hasil rancangan di atas kertas secara bertahap dibangun menyesuaikan dengan kondisi (sosial, politik, keuangan) saat pembangunan berlangsung. Penyesuaian-penyesuaian rancangan sudah tentu tak bisa dihindari. Bahkan penundaan pembangunan karena keterbatasan dana bukanlah hal aneh.
Krisis keuangan yang menimpa dunia tahun 1929, dikenal juga sebagai Wallstreet crash benar-benar memukul perekonomian dunia, tak terkecuali DEI. Proses pembangunan terhambat, pemulihan ekonomi pun tak berjalan instan. Tidak mengherankan jika rencana pemindahan ibukota pun tertunda.
Sepuluh tahun kemudian, perang pecah di Eropa, disusul pecahnya perang di Asia yang mengakibatkan PD II dua tahun kemudian. Dalam keadaan seperti ini, kondisi negara yang belum pulih 100% dari krisis keuangan global, diikuti peperangan yang menghancurkan, sangat tidak mungkin bagi negara manapun untuk memindahkan pusat pemerintahan. Konsentrasi dipusatkan pada pertahanan wilayah. Meskipun demikian, DEI akhirnya jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942.
Tahun 1945, Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, pemerintahan DEI dinyatakan berakhir oleh pemimpin Indonesia. Hal ini diikuti dengan periode lanjutan yang dikenal sebagai periode Bersiap. Periode ini berlangsung antara 1945-1950. Ketika itu, seluruh warga Eropa dan keturunan Eropa dipaksa keluar dari Indonesia. Tahun 1957 hampir semua warga Eropa dan keturunan Eropa keluar dari Indonesia. Masa-masa tersebut merupakan masa kritis di mana masih terjadi peperangan antara Indonesia dan Belanda. Proses pembangunan dan rehabilitasi pasca perang hampir tidak mungkin dilakukan kecuali di beberapa daerah yang relatif aman.
Dapat kita lihat bahwa proses persiapan Bandung untuk menjadi pusat pemerintahan menggantikan Weltevreden bisa dikatakan dimulai tahun 1917. Hingga terjadinya krisis keuangan, proses persiapan dan pembangunan telah berjalan lebih kurang 10 tahun, masa yang sangat singkat untuk pembangunan sebuah kota. Masa-masa berikutnya bisa dikatakan proses pembangunan terhenti karena krisis dan perang. kegagalan memindahkan pusat pemerintahan bukan dikarenakan faktor internal, melainkan oleh sebab eksternal. Dengan kata lain, gagalnya pemindahan pusat kota ini adalah karena adanya force majeur yang tidak bisa dihindari dan tidak mungkin diantisipasi. Hal ini bisa diibaratkan seperti proses membangun rumah yang gagal karena badai besar yang datang mendadak.
Jadi, pemerintah DEI sebetulnya tidak bisa dikatakan telah gagal dalam upaya memindahkan pusat pemerintahan DEI dari Weltevreden ke Bandung karena proses pembangunan kota bukanlah hal yang bisa dilakuan dalam waktu singkat. Kondisi sosial politik ekonomi yang stabil adalah prasyarat dalam pembangunan sebuah kota baru. Waktu yang diperlukan pun tidak sedikit karena kondisi sosial politik ekonomi tadi tidaklah stagnan, tetapi dinamis dan selalu berubah. Jika perubahan itu masih dalam batas normal, maka pemerintah DEI bisa jadi akan berhasil dalam upaya pemindahan pusat pemerintahan tersebut. Namun force majeur yang terjadi tanpa terduga dengan level kerusakan tinggi pastilah menghambat upaya itu. Malah akan sangat ajaib jika pemerintah DEI berhasil pindah dari Weltevreden ke Bandung dalam kondisi negara yang kritis.
Keterangan tambahan:
Jakarta terdiri dari kumpulan kota-kota kecil buatan Belanda. Kota pertama adalah Batavia. Kemudian di arah Selatan Batavia dibangun kota baru bernama Weltevreden (masih Jakarta). Menyusul kemudian Menteng.
Awal pemerintahan di Maluku yang kemudian dipindahkan ke Batavia. Oleh karena kondisi sanitasi Batavia buruk, maka pemerintahan kemudian dipindahkan ke Weltevreden. Dari Weltevreden inilah kemudian muncul rencana pemindahan pemerintahan ke Bandung.
Keterangan tambahan:
Jakarta terdiri dari kumpulan kota-kota kecil buatan Belanda. Kota pertama adalah Batavia. Kemudian di arah Selatan Batavia dibangun kota baru bernama Weltevreden (masih Jakarta). Menyusul kemudian Menteng.
Awal pemerintahan di Maluku yang kemudian dipindahkan ke Batavia. Oleh karena kondisi sanitasi Batavia buruk, maka pemerintahan kemudian dipindahkan ke Weltevreden. Dari Weltevreden inilah kemudian muncul rencana pemindahan pemerintahan ke Bandung.
Kamis, 27 Mei 2010
Tentang Palaguna
Sebuah pesan masuk, seseorang meminta saran untuk desain pemanfaatan lahan ex-Palaguna. Ia mendapat tugas kuliah untuk merancang kawasan tersebut. Saya katakan bahwa kawasan tersebut memiliki potensi budaya. Di sekitarnya terdapat Gedung Merdeka yang bersejarah, hotel Swarha yang telah lama beralih fungsi menjadi pertokoan, masjid agung kota dan alun-alunnya.
Saya sarankan untuk membuat sebuah kompleks pusat kebudayaan di lahan Palaguna tersebut dengan mempertimbangkan aspek-aspek tadi. Saya sarankan untuk membuat pusat kebuadayaan berisi galeri skala kota (untuk umum) karena galeri yang ada di Bandung saat ini hampir semua merupakan milik pribadi, perpustakaan dan mungkin arena kesenian (terbuka dan tertutup) untuk mengakomodasi kegiatan budaya mengingat masyarakat bandung, terutama kaum muda sangat dinamis dan kreatif. Pusat kebudayaan ini akan sangat mendukung misi Bandung kota kreatif karena akan dapat mengakomodasi kebutuhan berkreasi warganya. Selain itu, Bandung sudah mulai jenuh dengan banyaknya sarana komersial yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.
Akan tetapi, ia menolak ide saya. Katanya tampaknya kawasan tersebut kembali akan dijadikan kawasan komersial dan ia lebih memilih ide membuat kawasan komersial. Bagi saya tidak jadi masalah, toh ini hanya saran untuk tugas kuliah. Namun saya menyayangkan pola pemikiran yang hanya tertumpu pada perancangan tanpa melihat aspek budaya dan waktu. Sesuatu yang saya pelajari selama dua tahun terakhir, sebuah pengetahuan tentang manajemen.
Rupanya kacamata arsitek perancang dan kacamata manajemen sedikit berbeda. Deasin yang cantik memang penting tapi ia tidak bolah mengorbankan unsur-unsur pendukung untuk menentukan fungsi (baru) suatu kawasan.
Pagi ini saya membaca tulisan seorang kawan yang dimuat di sebuah harian nasional. Beliau menuliskan bahwa pemerintah kota akhirnya memutuskan untuk membuat perpustakaan di lokasi Palaguna tersebut. Ide ini ternyata mendapat dukungan dari pembaca. Jadi saya rasa apa yang saya sampaikan pada kawan lain untuk tugas kuliahnya sudah berada pada jalur yang benar. Saya sudah berpikir logis dan terarah dengan melihat potensi dan permasalahan yang ada saat ini. Sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia masih berkiblat ke Barat yang sangat logis dengan memakai pola pikir Timur yang emosional sehingga informasi yang terolah belum sempurna.
Kembali ke Palaguna, jika ide seperti yang telah saya utarakan (setidaknya sebagian) bisa dikembangkan, maka Bandung akan memperoleh pamor sebagai kota budaya, tidak hanya kota belanja dan makan. Kelengkapan sarana kota untuk akitivas kebudayaan akan sangat menunjang kemajuan kota dan kegiatan berkreasi masyarakat yang dinamis untuk Bandung kota kreatif.
Buat museum lebih menarik yuk!
Pertengahan tahun lalu saya kembali mengunjungi Museum Geologi Bandung. Terakhir kali saya berkunjung adalah ketika saya SMP. Hampir 15 tahun yang lalu.
Ternyata kondisi museum belum berubah sejak pertama kali saya kunjungi 15 tahun yang lalu. Dengan tata ruang yang masih sama. Semua koleksi tampak ditaruh begitu saja tanpa penjelasan berarti, tanpa penataan yang menarik. Bahkan di bagian batuan alam penjelasannya bahkan sama sekali belum diperbarui dengan data mutakhir. Sungguh sangat disayangkan karena koleksi museum tersebut cukup bagus. Terutama koleksi arkeologi berupa kerangka binatang purba dan replika tengkorak manusia purba.
Saya sebagai seseorang berlatar pendidikan arsitektur dan juga perancang selama 3 tahun merasa gatal ingin mengubah dan mempercantik tampilan koleksi museum agar bisa menarik lebih banyak pengunjung. Saya bahkan sempat mengintip buku tamu dan di sana terdapat tak sedikit nama asing yang tertulis. Artinya banyak pengunjung mancanegara datang ke museum ini, bahkan ada di antaranya adalah peneliti.
Bertolak dari pengalaman mengunjungi berbagai jenis museum di Eropa, mempercantik tampilan dan tata letak koleksi serta penambahan sedikit penjelasan sejarah tentu tidak akan menyakiti museum. Sebaliknya, saya yakin hal itu akan membantu museum berkembang dan menjaring lebih banyak pengunjung.
Di Museum Geologi Bandung, koleksi paling istimewa adalah kerangka T-Rex diikuti kerangka hewan langka lain dan replika tengkorak manusia purba. Untuk menjaring pengunjung usia muda (anak-anak), kerangka T-Rex adalah primadona. T-Rex bisa ditaruh di satu ruangan tersendiri, di tengah-tengah ruangan sebagai penarik perhatian. Di sekeliling ruangan akan sangat baik bila disusunkan semacam lukisan besar atau penjelasan tentang T-Rex dan dunia pra-sejarah dalam versi yang lebih baik daripada yang terlihat di foto.
Di sisi lain, koleksi batuan alam juga menarik, terutama yang berupa kristal. Jika pengelola museum pandai sedikit, ia bisa mengkaryakan seniman (atau pengrajin, siapa pun) untuk membuat perhiasan (aksesoris) dari batuan-batuan tersebut (dengan rancangan khas dan unik tentunya) dan menjualnya sebagai cinderamata. Jelas pangsa pasarnya tentu adalah kaum perempuan. Hasil penjualan bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan museum dan penambahan serta perawatan koleksi.
Di bagian pintu masuk tempat terdapat dua tangga menuju lantai 1, akan lebih jika dibuatkan semacam pusat informasi dan mungkin toko cinderamata untuk menjual benda-benda yang berkaitan dengan koleksi museum. Jika di museum filateli bisa dibeli perangko, maka di Museum Geologi mungkin pengunjung bisa membeli miniatur T-Rex atau buku tentang kehidupan pra-sejarah di Indonesia.
Ini hanyalah sedikit ide untuk mengangkat (membuat lebih menarik) kekayaan yang sudah ada (dimiliki). Semoga ide ini suatu hari bisa diwujudkan demi pendidikan dan ilmu pengetahuan. Untuk mewujudkan ide ini diperlukan kerjasama antara arsitek, arkeolog dan perancang interior. Hal ini diperlukan karena di Indonesia belum dikenal ilmu yang bernama museografi sehingga profesi museolog (pengurus dan pengatur museum) juga belum dikenal.
Saya sebagai seseorang berlatar pendidikan arsitektur dan juga perancang selama 3 tahun merasa gatal ingin mengubah dan mempercantik tampilan koleksi museum agar bisa menarik lebih banyak pengunjung. Saya bahkan sempat mengintip buku tamu dan di sana terdapat tak sedikit nama asing yang tertulis. Artinya banyak pengunjung mancanegara datang ke museum ini, bahkan ada di antaranya adalah peneliti.
Bertolak dari pengalaman mengunjungi berbagai jenis museum di Eropa, mempercantik tampilan dan tata letak koleksi serta penambahan sedikit penjelasan sejarah tentu tidak akan menyakiti museum. Sebaliknya, saya yakin hal itu akan membantu museum berkembang dan menjaring lebih banyak pengunjung.
Di sisi lain, koleksi batuan alam juga menarik, terutama yang berupa kristal. Jika pengelola museum pandai sedikit, ia bisa mengkaryakan seniman (atau pengrajin, siapa pun) untuk membuat perhiasan (aksesoris) dari batuan-batuan tersebut (dengan rancangan khas dan unik tentunya) dan menjualnya sebagai cinderamata. Jelas pangsa pasarnya tentu adalah kaum perempuan. Hasil penjualan bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan museum dan penambahan serta perawatan koleksi.
Di bagian pintu masuk tempat terdapat dua tangga menuju lantai 1, akan lebih jika dibuatkan semacam pusat informasi dan mungkin toko cinderamata untuk menjual benda-benda yang berkaitan dengan koleksi museum. Jika di museum filateli bisa dibeli perangko, maka di Museum Geologi mungkin pengunjung bisa membeli miniatur T-Rex atau buku tentang kehidupan pra-sejarah di Indonesia.
Ini hanyalah sedikit ide untuk mengangkat (membuat lebih menarik) kekayaan yang sudah ada (dimiliki). Semoga ide ini suatu hari bisa diwujudkan demi pendidikan dan ilmu pengetahuan. Untuk mewujudkan ide ini diperlukan kerjasama antara arsitek, arkeolog dan perancang interior. Hal ini diperlukan karena di Indonesia belum dikenal ilmu yang bernama museografi sehingga profesi museolog (pengurus dan pengatur museum) juga belum dikenal.
Kamis, 22 April 2010
Bandung, kenapa Parijs van Java?
Ditulis 14 Februari 2010 jam 20:33, diterbitkan di Warta Heritage Bandung Heritage
Bandung adalah Parisnya pulau Jawa. Itulah julukan kota Bandung pada era kolonial.
Apa sebenarnya yang menyebabkan Bandung mendapatkan julukan itu?
Dengan ingatan yang sedikit samar-samar, dari beberapa sumber bacaan tentang Bandung dan sejarahnya, saya ingin mencari penyebab munculnya julukan itu.
Bandung dirancang dengan pola tata kota yang sangat 'Eropa', mengikuti mode arsitektur dan tata kota masa itu. Ke-Eropaan Bandung didukung oleh keinginan bangsa Eropa untuk memfasilitasi dan menciptakan kawasan di negeri tropis yang mirip dengan rumah mereka di Eropa, seperti bangsa Romawi yang membawa arsitekturnya ke setiap negara jajahan mereka. Bisa dikatakan usaha mereka itu sangat berhasil. Bandung memiliki rancangan kota yang sangat baik. Dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kehidupan dan rekreasi bagi warganya.
Dalam sebuah tulisan tentang bioskop di Bandung, disebutkan bahwa di masa kolonial, warga Eropa yang datang ke Bandung sangat terkesan dengan kualitas kota ini yang sangat 'Eropa'. Dalam teks itu pun disebutkan bahwa kualitas bioskop di Bandung menyamai kualitas bioskop terbaik di Belgia pada masa itu yang merupakan bioskop terbaik di Eropa. Bandung pun terkenal (dulu) dengan kawasan perbelanjaan Braga-nya. Kota ini menjadi pusat orientasi mode warga Eropa di pulau Jawa. Bisa dikatakan, Bandung adalah kota aktivitas budaya. Hingga hari ini, tak terhitung banyaknya musisi dan penulis yang berasal dari Bandung.
Bandung pun dirancang sebagai kota taman. Hal ini terlihat dari banyaknya taman yang bertebaran di kota Bandung. Seorang wanita Belanda yang melewatkan masa kecilnya di Indonesia, menulis dalam websitenya bahwa ia sangat terkesan dengan taman di sebuah hotel di Bandung yang bernuansa negeri dongeng yang dihiasi bunga berwarna-warni. Tidak heran bila kota kembang menjadi salah satu julukan Bandung.
Lalu apakah yang menyebabkan warga Eropa di Indonesia sampai berani menyamakan Bandung dengan Paris?
Melihat kembali jejak sejarah, Paris adalah sebuah kota yang pada abad ke 17-18 dirancang ulang oleh Haussmann untuk memperbaiki sistem sanitasi kota yang berasal dari masa abad pertengahan. Struktur pusak kota lama dibabad habis dan dibangun dengan struktur dan tata kota yang lebih teratur. Di Paris pun dibangun ruang-ruang terbuka dan taman-taman kota.
Paris tidak bisa dilepaskan dari aktivitas budaya warga Prancis. Untuk sebuah eksposisi internasional, menara Eiffel dibangun dan hari ini menjadi simbol yang melekat erat dengan Paris. Seniman-seniman ternama dari seluruh Eropa pergi ke Paris untuk mencari inspirasi. Sebut saja Vincent van Gogh yang pernah tinggal selama dua tahun di kawasan Montmartre, Paris, sebagai perwakilan seniman ternama.
Persamaan kualitas inilah yang rupanya mampu membuat warga Eropa yang datang ke Bandung menyebutnya Paris of Java (Parijs van Java).
Jika di Paris (dan Eropa secara umum) bangunan-bangunan tua dijaga kondisinya sebaik mungkin, itu adalah berkat Revolusi Prancis. Setelah Revolusi Prancis, masyarakat intelektual Prancis memutuskan bahwa tidak semua yang berasal dari masa lalu, seburuk apapun kenangan yang dibawanya, wajib dihancurkan. Sebaliknya, ia harus dilindungi demi pembelajaran di masa depan tentang kejadian di masa lalu.
Bagaimanakah keadaan Parijs van Java hari ini?
Sangat menyedihkan. Identitas sejarah kota hampir punah direnggut yang namanya modernisasi dan budaya pop. Sedikit orang yang mau dan mampu menjaga rumah 'kuno'nya sebagai mana mestinya. Padahal jika satu kawasan perumahan dari era kolonial bisa dijaga keasliannya, kawasan ini bisa menjadi objek studi dan wisata jalan-jalan bagi warga kota maupun luar kota.
Dosenku di Eropa bertanya, jika Bandung, begitu berharga dengan Art Deconya, apakah kalian memberikan kesempatan pada pengunjung untuk menikmati keindahan itu?
Sayang sekali, hanya sedikit yang peduli untuk menjaga dan 'menjual' bangunan-bangunan Art Deco yang berharga sebagai peninggalan sejarah pada pengunjung. Bandungku sekarang hanya terkenal oleh wisata kuliner dan belanjanya.
Bandung tidak lagi sejuk. Bandung meranggas. Pohon-pohonnya hilang berganti balibo dan reklame iklan. Bangunan tua bergaya Art Deco hilang satu per satu digantikan berbagai macam pusat perbelanjaan. Braga sudah lama kehilangan pamornya. Parijs van Java hanya menjadi nama salah pusat perbelanjaan di kota ini. Parijs van Java sekarat.
Masyarakat sekarang sibuk mencarikan identitas baru untuk Bandung dengan kota kreatifnya. Pertanyaannya adalah apakah perlu mencari identitas baru? Ataukah lebih baik menghidupkan kembali kenangan Parijs van Java dan menambahkan kreativitas sebagai penguatnya, pendukungnya? Toh kegiatan kreatif juga tetap berlangsung dalam ruang kota yang sudah terbentuk dan berevolusi selama 200 tahun.
I love Bandung, though she's tired with her burden, though she looks old of chaos. What can I do for you?
Bandung adalah Parisnya pulau Jawa. Itulah julukan kota Bandung pada era kolonial.
Apa sebenarnya yang menyebabkan Bandung mendapatkan julukan itu?
Dengan ingatan yang sedikit samar-samar, dari beberapa sumber bacaan tentang Bandung dan sejarahnya, saya ingin mencari penyebab munculnya julukan itu.
Bandung dirancang dengan pola tata kota yang sangat 'Eropa', mengikuti mode arsitektur dan tata kota masa itu. Ke-Eropaan Bandung didukung oleh keinginan bangsa Eropa untuk memfasilitasi dan menciptakan kawasan di negeri tropis yang mirip dengan rumah mereka di Eropa, seperti bangsa Romawi yang membawa arsitekturnya ke setiap negara jajahan mereka. Bisa dikatakan usaha mereka itu sangat berhasil. Bandung memiliki rancangan kota yang sangat baik. Dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kehidupan dan rekreasi bagi warganya.
Dalam sebuah tulisan tentang bioskop di Bandung, disebutkan bahwa di masa kolonial, warga Eropa yang datang ke Bandung sangat terkesan dengan kualitas kota ini yang sangat 'Eropa'. Dalam teks itu pun disebutkan bahwa kualitas bioskop di Bandung menyamai kualitas bioskop terbaik di Belgia pada masa itu yang merupakan bioskop terbaik di Eropa. Bandung pun terkenal (dulu) dengan kawasan perbelanjaan Braga-nya. Kota ini menjadi pusat orientasi mode warga Eropa di pulau Jawa. Bisa dikatakan, Bandung adalah kota aktivitas budaya. Hingga hari ini, tak terhitung banyaknya musisi dan penulis yang berasal dari Bandung.
Bandung pun dirancang sebagai kota taman. Hal ini terlihat dari banyaknya taman yang bertebaran di kota Bandung. Seorang wanita Belanda yang melewatkan masa kecilnya di Indonesia, menulis dalam websitenya bahwa ia sangat terkesan dengan taman di sebuah hotel di Bandung yang bernuansa negeri dongeng yang dihiasi bunga berwarna-warni. Tidak heran bila kota kembang menjadi salah satu julukan Bandung.
Lalu apakah yang menyebabkan warga Eropa di Indonesia sampai berani menyamakan Bandung dengan Paris?
Melihat kembali jejak sejarah, Paris adalah sebuah kota yang pada abad ke 17-18 dirancang ulang oleh Haussmann untuk memperbaiki sistem sanitasi kota yang berasal dari masa abad pertengahan. Struktur pusak kota lama dibabad habis dan dibangun dengan struktur dan tata kota yang lebih teratur. Di Paris pun dibangun ruang-ruang terbuka dan taman-taman kota.
Paris tidak bisa dilepaskan dari aktivitas budaya warga Prancis. Untuk sebuah eksposisi internasional, menara Eiffel dibangun dan hari ini menjadi simbol yang melekat erat dengan Paris. Seniman-seniman ternama dari seluruh Eropa pergi ke Paris untuk mencari inspirasi. Sebut saja Vincent van Gogh yang pernah tinggal selama dua tahun di kawasan Montmartre, Paris, sebagai perwakilan seniman ternama.
Persamaan kualitas inilah yang rupanya mampu membuat warga Eropa yang datang ke Bandung menyebutnya Paris of Java (Parijs van Java).
Jika di Paris (dan Eropa secara umum) bangunan-bangunan tua dijaga kondisinya sebaik mungkin, itu adalah berkat Revolusi Prancis. Setelah Revolusi Prancis, masyarakat intelektual Prancis memutuskan bahwa tidak semua yang berasal dari masa lalu, seburuk apapun kenangan yang dibawanya, wajib dihancurkan. Sebaliknya, ia harus dilindungi demi pembelajaran di masa depan tentang kejadian di masa lalu.
Bagaimanakah keadaan Parijs van Java hari ini?
Sangat menyedihkan. Identitas sejarah kota hampir punah direnggut yang namanya modernisasi dan budaya pop. Sedikit orang yang mau dan mampu menjaga rumah 'kuno'nya sebagai mana mestinya. Padahal jika satu kawasan perumahan dari era kolonial bisa dijaga keasliannya, kawasan ini bisa menjadi objek studi dan wisata jalan-jalan bagi warga kota maupun luar kota.
Dosenku di Eropa bertanya, jika Bandung, begitu berharga dengan Art Deconya, apakah kalian memberikan kesempatan pada pengunjung untuk menikmati keindahan itu?
Sayang sekali, hanya sedikit yang peduli untuk menjaga dan 'menjual' bangunan-bangunan Art Deco yang berharga sebagai peninggalan sejarah pada pengunjung. Bandungku sekarang hanya terkenal oleh wisata kuliner dan belanjanya.
Bandung tidak lagi sejuk. Bandung meranggas. Pohon-pohonnya hilang berganti balibo dan reklame iklan. Bangunan tua bergaya Art Deco hilang satu per satu digantikan berbagai macam pusat perbelanjaan. Braga sudah lama kehilangan pamornya. Parijs van Java hanya menjadi nama salah pusat perbelanjaan di kota ini. Parijs van Java sekarat.
Masyarakat sekarang sibuk mencarikan identitas baru untuk Bandung dengan kota kreatifnya. Pertanyaannya adalah apakah perlu mencari identitas baru? Ataukah lebih baik menghidupkan kembali kenangan Parijs van Java dan menambahkan kreativitas sebagai penguatnya, pendukungnya? Toh kegiatan kreatif juga tetap berlangsung dalam ruang kota yang sudah terbentuk dan berevolusi selama 200 tahun.
I love Bandung, though she's tired with her burden, though she looks old of chaos. What can I do for you?
Langganan:
Postingan (Atom)


