Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2012

Dalang

Waktu itu hari Sabtu malam. Saya sendirian menunggu suami pulang sambil mengerjakan pekerjaan ekstra, proyekan dari luar kantor. Hujan turun cukup deras. Di rumah sunyi sepi. Televisi saya nyalakan. Remote TV pun bekerja. Bolak-balik saya pijit tombol angka pada permukaannya, tak juga ditemukan saluran yang menayangkan acara berbobot. Tujuh puluh persen stasiun TV menayangkan sinetron yang saya tidak pernah suka. Akhirnya saluran kembali berpindah. Kali ini ke stasiun TV lokal Bandung. Acaranya pagelaran pertunjukkan wayang golek. Sepertinya acara sudah berlangsung cukup lama.

Saya bertahan di pagelaran wayang golek. Saya ingin tahu lakon yang dibawakan dan siapa dalangnya. Ternyata lakonnya adalah pencarian satria piningit yang melegenda. Sang dalang adalah juga dalang legendaris wayang golek, Asep Sunandar Sunarya. Beberapa kali kamera mengarah ke arah penonton. Rupanya di situ ada Gubernur Jawa Barat. Pagelaran sendiri diadakan di Sumedang. 

Kisah pun terus berlanjut. Alkisah, Semar bersama seorang patih pergi bersemedi. Semar mengatakan bahwa ia dan sang patih akan turun ke negeri lain untuk mencari satria piningit dan mereka berdua pun bersalin rupa (atau justru Semarlah sang satria piningit itu?) menjadi ksatria untuk menjalankan tugas di suatu negeri yang sedang carut-marut.

Singkat cerita, Semar dan patih yang sudah salin rupa pun pergi mengemban tugas. Rupanya Cepot, putra Semar, kehilangan ayahnya. Ia mencari-cari sang ayah ke mana-mana. Tak jua ia temukan sang ayah. Cepot, yang seperti biasa sangat interaktif dengan penonton, bertanya pada penonton ke mana gerangan ayahnya pergi. Penonton tak ada yang memberi tahu. Alih-alih, Cepot justru melihat kehadiran sang Gubernur. Ia pun akhirnya berdialog dengan sang Gubernur.

Lalu apa yang istimewa dari kisah di atas? Yang akan disoroti di sini bukanlah lakon yang dibawakan pada pagelaran tersebut, bukan pula mengenai kesenian wayang yang sudah sangat langka. Yang akan menjadi fokus kali ini justru adalah sang pengatur lakon, sang dalang.

Beberapa pengertian mengenai "dalang" bisa dilihat di catatan Buku Muka (Facebook) dalang Asep Sunandar Sunarya sediri di tautan berikut: http://www.facebook.com/notes/asep-sunandar-sunarya-grh-3/dalang/113133478720799. Ada sembilan definisi "dalang" dalam tulisan tersebut. Apapun definisi yang diambil, yang terpenting adalah memahami peran dalang dalam sebuah pertunjukkan.

Dalang adalah seorang serbabisa yang berlaku sebagai aktor, sutradara, penyusun naskah, sekaligus pendongeng dalam sebuah pagelaran wayang terutama wayang golek dan wayang kulit. Oleh karena perannya yang sangat beragam tersebut, maka seorang dalang haruslah seseorang yang memiliki kecerdasan dan kepekaan tinggi. Ia harus memiliki imajinasi, kreativitas dan pengetahuan yang luas. 

Bisa dilihat dalam adegan Cepot berdialog dengan Bapak Gubernur, bagaimana sang dalang harus memiliki pengetahuan politik dan sosial yang aktual. Ia harus bisa menyesuaikan lakon-lakon klasik dengan situasi saat ini, meskipun menggunakan tokoh-tokoh wayang klasik seperti Pandawa dan Kurawa. Bisa dibayangkan jika seorang dalang tidak inovatif, maka orang akan sudah bosan dengan cerita yang itu-itu saja dan bisa dipastikan saat ini seni pagelaran wayang sudah tidak ada lagi peminatnya. Namun hal itu tidak terjadi, karena sang dalang mampu beradaptasi dengan kondisi sosial budaya aktual sehingga unsur penghiburan dan pendidikan dari suatu pertunjukkan wayang tetap mampu membuat para penggemarnya bertahan.

Dalang harus mampu merangkai cerita sebagai penulis naskah, ia harus mampu membawakan cerita bak seorang pendongeng, ia harus mampu memainkan cerita tersebut melalui berbagai karakter wayang sebagai multi-aktor, ia harus mampu menyampaikan pesan-pesan moral pada masyarakat lewat ceritanya seperti seorang guru, ia harus mampu menghibur penontonnya lewat selingan candaan seperti pelawak, ia harus berwawasan luas dan terbuka. Sepertinya itulah esensi seorang dalang. Dalang adalah sutradara, penulis naskah, pendongeng, aktor, guru, pelawak/penghibur, pembelajar sejati. Sungguh luar biasa kemampuan seorang dalang.

Dalam dunia pewayangan, ternyata unsur utamanya adalah dalang. Tanpa kehadiran dalang yang mumpuni, akan punah pula tradisi pendidikan luar biasa ini. Wayang sejak dulu telah digunakan sebagai media pendidikan, selain penghiburan, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga untuk mendakwahkan Islam. Perlu pula kiranya saat ini peran seorang dalang untuk memintarkan masyarakat, terutama masyarakat yang jauh dari akses pendidikan tinggi berkualitas. Seorang dalang dan wayangnya sebetulnya dibutuhkan untuk memberikan informasi mengenai aktualitas dan mendidik masyarakat terkait aktualitas tersebut. 

Akankah pemerintah yang berkepentingan melihat dalang dan wayang seperti itu? Sebagai salah satu medium pencerdasan masyarakat? Akankah ada kepedulian lebih banyak pada kesenian wayang dan para pelakunya untuk kepentingan bangsa yang lebih luas? Semoga seni adiluhung ini tidak berhenti di tingkat dokumentasi dan pencatatan wayang (kulit) sebagai Oral World Intangible Heritage-nya UNESCO. Semoga di masa mendatang segera lahir Asep-Asep Sunandar Sunarya yang lain. 

 

Senin, 02 Januari 2012

Musikal Lutung Kasarung - ulasan pribadi

Saya sebetulnya ingin mengulas sejak beberapa hari yang lalu. Sayang, jaringan internet yang jelek menghambat. Maka inilah posting pertama saya di tahun 2012. 
 
Pohon langit Lengser dan Pohaci Ambu muncul untuk menceritakan sebuah legenda. Legenda yang sangat dikenal tentang perjalanan penghukuman dan pembebasan diri dari penghukuman lewat ketulusan dan kasih sayang. Kisah tentang pangeran langit yang dihukum turun ke bumi karena hanya bersedia menikah dengan wanita yang seperti ibunya, Sunan Ambu. Kisah yang membalikkan kenyataan antara si sulung yang biasanya paling banyak berkorban dengan si bungsu yang biasanya manja dan mau menang sendiri. 

Di bumi pergolakan tengah terjadi. Sang raja mangkat. Putri-putrinya yang berjumlah tujuh diperintahkan menjaga wasiatnya. Purbasari, putri termuda harus naik takhta. Purbararang, putri tertua memegang tampuk kekuasaan hingga si bungsu beranjak dewasa.  

Namun kekuasaan membutakan sang kakak. Ia pun mengupayakan berbagai cara untuk menyingkirkan sang adik. Jodoh memang tak akan ke mana. Putri kecil dikirim ke hutan dan akhirnya bertemu sang Lutung, jelmaan Guruminda. Lutung pun membantu putri kembali ke takhta. Dan ia pun, karena ketulusannya, dibebaskan dari hukuman untuk memimpin negeri bersama Purbasari.

Cerita dibalut sentuhan modern dengan sedikit nyepet-nyepet keadaan di negeri ini. Alunan musik, nyanyian dan tarian dalam musikal ini tertata apik diselingi nuansa etnik yang kental sungguh sangat menghibur. Diselingi humor-humor ringan dalam bahasa Sunda, teater musikal ini seharusnya menjadi tontonan rutin masyarakat. Duet jaipong tukang bubur dan istrinya betul-betul luar biasa, paporit pokona mah. Vokal para pemain pun sangat baik. Vokal terbaik favorit saya adalah Sunan Ambu dalam balutan kostum yang sangat indah dan megah. Ngomong-ngomong kostum, mahkota lutung mengingatkan saya pada Raja Julian Si Ekor Cincin dari Madagaskar hehe

Dengan harga tiket yang lumayan tinggi, agak sulit bagi masyarakat biasa bahkan untuk sekedar berpikir menyaksikan pertunjukan ini. Mungkinkah jika pertunjukan dibuat rutin harga tiket dapat diturunkan? Tapi kasihan juga para pemainnya.

Hal yang mengganjal dalam pertunjukan adalah penempatan panggung yang besar sehingga hampir memakan seluruh ruang Sabuga. Penonton kelas 2 nyaris tak dapat melihat apa-apa kecuali stager-stager. Untuk 150 ribu rupiah, hanya dapat melihat stager adalah hal yang sangat mengecewakan. 

Hal lain yang mengganggu adalah presentasi seluruh kru pendukung pertunjukan di akhir acara. Seluruh kru pendukung belakang layar ditampilkan satu per satu, sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting. Mungkin maksudnya adalah untuk memberikan penghargaan pada tiap kru, tetapi justru menjadi bagian yang paling mengganggu dan membosankan penonton. Cukuplah penghargaan terhadap kru disebutkan secara sekilas, diwakili oleh para pemain yang muncul serempak dan memberikan salam akhir pada penonton. Setidaknya itulah yang saya lihat ketika menonton teater di Jerman, sehingga tepuk tangan penonton pun terdengar meriah dan membahana di seluruh ruang teater. Tentunya mendengar tepukan tangan meriah dari penonton akan lebih membanggakan bagi pemain dan kru. Hal yang tidak terdengar di Sabuga karena musik terus mengalun dan MC terus menyebutkan nama-nama tanpa henti. Akhirnya tepuk tangan kami kasilep alunan musik, dan kami pun menjadi agak malas bertepuk tangan berkali-kali. 

Secara keseluruhan, musikal ini wajib ditonton oleh masyarakat Sunda. Karena masyarakat Sunda terbentang dari Jawa Barat hingga Banten. Dua jempol untuk lutung. 

*n.b. Poster diunduh dari situs resmi Musikal Lutung Kasarung.

Minggu, 21 November 2010

Kabale und Liebe

Enaknya tinggal di Eropa, pelajar mendapat keistimewaan terutama dalam hal pemberian tarif khusus untuk berbagai fasilitas umum. Di antara fasilitas umum yang bisa dinikmati pelajar dengan harga khusus, alias dapat diskon, di antaranya adalah museum, transportasi umum, tempat wisata bersejarah, dan teater.

Musim dingin itu, diiringi rasa lelah dan malas, juga sedikit bt karena kejadian siang harinya, saya menyeret kaki menuju Staatstheater kota Stuttgart. Bersama beberapa kawan saya menonton pertunjukkan teater.  Kami mengantri karcis menjelang pukul 18, karena pada saat itu biasanya ada beberapa pengunjung yang membatalkan rencana sehingga karcis bangku mereka dijual dengan harga sangat miring, hanya 7 euro saja.  Pertunjukkan baru mulai pukul 19.30. 


Pertunjukkan yang saya ikuti berjudul Kabale und Liebe (intrik dan cinta). Kisah roman mirip Romeo dan Juliet versi Jerman yang ditulis oleh Friedrich Schiller, seorang sastrawan Jerman dari abad ke-18. Kabale und Liebe mengisahkan Ferdinand von Walter, anak bangsawan, yang jatuh cinta pada Luise Miller, putri seorang musisi kelas menengah. Hubungan mereka ditentang orang tua masing-masing dan mereka diminta untuk mengakhiri hubungan tersebut. Ferdinand direncanakan untuk dijodohkan dengan Lady Milford, gundik sang ayah. Si Lady sih suka-suka saja dengan Ferdinand, tapi Ferdinand cuma cinta Luise. Akhirnya Ferdinand pun berontak dan ngajak Luise kabur.


Rencana Ferdinand dijegal ayahnya. Bersama sekretarisnya, Wurm, yang juga saingan Ferdinand, sang ayah menahan orang tua Luise. Luise dipaksa membuat surat yang harus dia tanda tangani berupa surat cinta yang menyatakan bahwa ia hanya akan dapat membebaskan orang tuanya dengan kematiannya dan sumpah pada Tuhan bahwa dia menulis surat itu atas kehendaknya sendiri, meski pada kenyataanya dia dipaksa menulis dan bersumpah. Surat itu dibocorkan pada Ferdinand. Ferdinand pun marah dan putus asa dalam kecemburuan.

Luise yang sudah terjebak dalam sumpah palsu tak punya cara lain untuk membebaskan dirinya selain dengan kematian. Luise pun sekarat di hadapan Ferdinand dan mengembalikan kasih mereka. Ferdinand pun, setelah menyadari kebenaran yang terjadi, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya bersama Luise.

Cerita cinta dan intrik ini sekilas mirip dengan Romeo dan Juliet. Perbedaanya hanya terletak pada posisi dua keluarga tokoh yang terlibat. Dalam kisah Romeo dan Juliet, keduanya berasal dari keluarga bangsawan yang saling bermusuhan. Sementara dalam Kabale und Liebe, kedua tokoh dipisahkan oleh stratifikasi sosial. Stratifikasi inilah yang menjadi akar intrik dan permasalahan yang melatarbelakangi kehidupan pada abad ke-18. Hal ini pulalah yang disorot Schiller dalam karyanya. Schiller memposisikan karya panggungnya untuk memperlihatkan perjuangan individu melawan tekanan sosial, agama dan moral di masa itu.

Pertunjukkan berlangsung dalam bahasa Jerman dengan menggunakan bahasa sastra. Dari sekira 2-3 jam pertunjukkan, hanya 20% isi percakapan bisa saya tangkap. Sisanya saya coba mengartikan dari akting para pemain. Alhasil, hingga akhir acara, saya tak juga mendapat inti cerita. Saya baru mengerti setelah mencari keterangan tentang karya ini setelah pertunjukkan usai. Namun, pengalaman menonton teater di Jerman memberikan kesan tersendiri bagi saya.


Minggu, 27 Juni 2010

Uniknya Napoli - catatan EM (4)



Napoli adalah kota di Italia selatan. Kota ini tergolong kota besar dengan jumlah penduduk mencapai 1-2 juta jiwa, masih kalah dari Bandung sebetulnya, tapi bagi mereka jumlah itu sudah banyak sekali.

Kota ini dulunya adalah kota koloni Yunani. Napoli berasal dari kata nea-polis yang berarti kota baru. Kota lamanya bernama Parthenopolis. Lokasi pusat kota Parthenopolis dan Neapolis tidaklah berjauhan dan sekarang sudah bergabung menjadi pusat kota Napoli.

Di daerah selatan Italia ini, meskipun ia notabene kota besar, dan bisa disebut sebagai kota 'metropolitan', tapi masih bisa ditemui aktivitas-aktivitas tradisional khas warga setempat. Misalnya, saya sering sekali menemui ibu-ibu, terutama yang agak sepuh, berbelanja melalui tetangganya. Mungkin hal semacam ini bisa ditemui di mana saja.Hal yang unik adalah cara mereka bertukar belanjaan. 

Para ibu yang tinggal di apartemen lantai atas menurunkan keranjang yang diikat tali ke bawah, orang yang dititipi belanjaan kemudian menaruh barang pesanan dalam keranjang tersebut. Ketika transaksi selesai, si ibu pembeli menarik keranjang kembali ke atas, persis kegiatan orang menimba. Untuk tukar informasi mereka cukup saling berteriak satu sama lain. Kepercayaan di antara mereka masih sangat kuat meskipun mereka banyak menaruh curiga terhadap para pendatang. 

Kedua, di sudut-sudut rumah dengan mudah ditemui cekukan di dinding yang dipasangi gambar perawan Maria atau Yesus lengkap dengan lilin dan bunga. Kadang-kadang juga bisa ditemui potret anggota keluarga yang telah meninggal di sisi gambar tadi.

Ketiga, di daerah tempat saya tinggal tahun lalu, setiap minggu pagi datang pengamen. Di Indonesia yang namanya pengamen sih biasa, lalu apa anehnya pengamen Napoli?

Pengamen Napoli ini tidak sendirian. Mereka adalah kelompok drum band yang hanya muncul setiap hari minggu pagi. Di kala ada hari besar, misalnya paskah, kelompok ini menjadi atraksi unik dengan parade solo mereka sambil membawa patung Maria dan memainkan musik-musik tradisional daerah selatan.

Kemudian, hal yang paling menarik adalah jemuran. Jemuran bertebaran di dinding-dinding luar apartemen. Di pusat kota bisa ditemui rentangan jemuran antar gedung. Semua bisa ditemukan di rentangan jemuran itu, mulai dari handuk sampai pakaian dalam.

Di luar kisah mafianya yang terkenal dan slogan menakutkan "kau lihat, kau mati"nya, Napoli memiliki kisah uniknya sendiri. Warganya masih dengan sadar memegang tradisi bersama-sama hingga hari ini.


*Kiriman ulang dari catatan Facebook 14 Juni 2010 jam 0:45