Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Oktober 2012

Braga Project Poster

Exhibition starting today until 14 of October at Rutgers Chaps University, New Jersey, USA.

Braga Project, usulan untuk perbaikan kawasan Braga berdasarkan kondisi aktual.


Posternya sudah sampai ke Amerika, semoga orangnya segera menyusul :)
Wish I were there :(

Senin, 02 Januari 2012

Musikal Lutung Kasarung - ulasan pribadi

Saya sebetulnya ingin mengulas sejak beberapa hari yang lalu. Sayang, jaringan internet yang jelek menghambat. Maka inilah posting pertama saya di tahun 2012. 
 
Pohon langit Lengser dan Pohaci Ambu muncul untuk menceritakan sebuah legenda. Legenda yang sangat dikenal tentang perjalanan penghukuman dan pembebasan diri dari penghukuman lewat ketulusan dan kasih sayang. Kisah tentang pangeran langit yang dihukum turun ke bumi karena hanya bersedia menikah dengan wanita yang seperti ibunya, Sunan Ambu. Kisah yang membalikkan kenyataan antara si sulung yang biasanya paling banyak berkorban dengan si bungsu yang biasanya manja dan mau menang sendiri. 

Di bumi pergolakan tengah terjadi. Sang raja mangkat. Putri-putrinya yang berjumlah tujuh diperintahkan menjaga wasiatnya. Purbasari, putri termuda harus naik takhta. Purbararang, putri tertua memegang tampuk kekuasaan hingga si bungsu beranjak dewasa.  

Namun kekuasaan membutakan sang kakak. Ia pun mengupayakan berbagai cara untuk menyingkirkan sang adik. Jodoh memang tak akan ke mana. Putri kecil dikirim ke hutan dan akhirnya bertemu sang Lutung, jelmaan Guruminda. Lutung pun membantu putri kembali ke takhta. Dan ia pun, karena ketulusannya, dibebaskan dari hukuman untuk memimpin negeri bersama Purbasari.

Cerita dibalut sentuhan modern dengan sedikit nyepet-nyepet keadaan di negeri ini. Alunan musik, nyanyian dan tarian dalam musikal ini tertata apik diselingi nuansa etnik yang kental sungguh sangat menghibur. Diselingi humor-humor ringan dalam bahasa Sunda, teater musikal ini seharusnya menjadi tontonan rutin masyarakat. Duet jaipong tukang bubur dan istrinya betul-betul luar biasa, paporit pokona mah. Vokal para pemain pun sangat baik. Vokal terbaik favorit saya adalah Sunan Ambu dalam balutan kostum yang sangat indah dan megah. Ngomong-ngomong kostum, mahkota lutung mengingatkan saya pada Raja Julian Si Ekor Cincin dari Madagaskar hehe

Dengan harga tiket yang lumayan tinggi, agak sulit bagi masyarakat biasa bahkan untuk sekedar berpikir menyaksikan pertunjukan ini. Mungkinkah jika pertunjukan dibuat rutin harga tiket dapat diturunkan? Tapi kasihan juga para pemainnya.

Hal yang mengganjal dalam pertunjukan adalah penempatan panggung yang besar sehingga hampir memakan seluruh ruang Sabuga. Penonton kelas 2 nyaris tak dapat melihat apa-apa kecuali stager-stager. Untuk 150 ribu rupiah, hanya dapat melihat stager adalah hal yang sangat mengecewakan. 

Hal lain yang mengganggu adalah presentasi seluruh kru pendukung pertunjukan di akhir acara. Seluruh kru pendukung belakang layar ditampilkan satu per satu, sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting. Mungkin maksudnya adalah untuk memberikan penghargaan pada tiap kru, tetapi justru menjadi bagian yang paling mengganggu dan membosankan penonton. Cukuplah penghargaan terhadap kru disebutkan secara sekilas, diwakili oleh para pemain yang muncul serempak dan memberikan salam akhir pada penonton. Setidaknya itulah yang saya lihat ketika menonton teater di Jerman, sehingga tepuk tangan penonton pun terdengar meriah dan membahana di seluruh ruang teater. Tentunya mendengar tepukan tangan meriah dari penonton akan lebih membanggakan bagi pemain dan kru. Hal yang tidak terdengar di Sabuga karena musik terus mengalun dan MC terus menyebutkan nama-nama tanpa henti. Akhirnya tepuk tangan kami kasilep alunan musik, dan kami pun menjadi agak malas bertepuk tangan berkali-kali. 

Secara keseluruhan, musikal ini wajib ditonton oleh masyarakat Sunda. Karena masyarakat Sunda terbentang dari Jawa Barat hingga Banten. Dua jempol untuk lutung. 

*n.b. Poster diunduh dari situs resmi Musikal Lutung Kasarung.

Minggu, 22 Agustus 2010

Ke Hutan Hitam yuk! - Schwarzwälder Freilichtmuseum (1)

Hutan Hitam? Hutan berwarna hitam? Hutan berpohon hitam? Hutan yang saking lebatnya dijuluki hitam? Bukan lah ya. Hutan hitam yang dimaksud adalah Black Forest di Karlsruehe, Jerman, atau dalam bahasa Jerman disebut Schwarzwald

Berkunjung ke kawasan hutan ini, pengunjung tidak hanya disuguhi alam dan kegiatan lintas alam seperti hiking, di dekat hutan ini juga terdapat museum terbuka (open air museum) yang bernama Schwarzwälder Freilichtmuseum. Museum ini sengaja dibuka sebagai salah satu upaya penyelamatan kompleks hunian tradisional Jerman di kawasan Black forest yang hampir punah. 

Untuk sampai ke museum ini, dari stasiun kereta pengunjung bisa menyusuri area pertanian di pinggir rel kereta atau lewat jalan besar dengan kendaraan pribadi maupun bis. 

Salah satu pemandangan yang dilewati sepanjang jalan menuju museum.

Berjalan dari stasiun ke museum cukup melelahkan karena jarak yang ditempuh lumayan jauh sekira 20-30 menit berjalan kaki. Meski begitu, pemandangan yang dilewati tidak membosankan. Salah satunya adalah little house on the prairie ini, rumah impianku ^_^

Sampai di museum, pengunjung harus melewati ruang penerimaan tempat membeli tiket sekaligus toko souvenir sebelum memasuki kawasan museum. Di sana suasananya seperti suasana pertanian di desa, lengkap dengan peternakan dan penggilingan gandum yang benar-benar difungsikan untuk memperlihatkan cara kerjanya.

Di sana terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai ruang tinggal, gudang, kapel bahkan ruang sekolah anak. Bahkan dapur difungsikan dan pengunjung dapat memesan makanan khas yang dimasak secara tradisional langsung di dapur tersebut. Di bagian luar bangunan tertentu terdapat kotak pendingin yang berfungsi sebagai freezer untuk mengawetkan susu atau makanan lain.

Bangunan-bangunan dibangun mengikuti kontur lahan yang berbukit, mengikuti keadaan aslinya dalam hutan. Bentuk-bentuk bangunannya pun berbeda satu sama lain, masing-masing dengan keunikan sendiri. Sayang fotonya ada dalam harddisk dan saat ini saya sedang malas menyalakannya, so, foto dan detil ceritanyanya diunggah belakangan saja ya :p
Museum terbuka ini (open air museum) adalah salah satu museum yang membuat saya ingin kembali berkunjung. 





Selasa, 20 Juli 2010

Musée de la Mine - Museum Tambang

Museum ini berada di kota kecil Prancis yang bernama Saint Etienne. Kota ini kecil sekali. Jumlah penduduknya hanya 250 ribu orang. Coba bandingkan dengan Bandung yang jumlah penduduknya 10x lipatnya. Meskipun kecil di kota ini terdapat beberapa museum. Salah satu museum paling menarik yang pernah saya kunjungi di seantero Eropa ternyata malah ada di kota ini. 

Musée de la Mine atau museum tambang, begitulah namanya, adalah sebuah museum tematik. Museum ini sesuai dengan namanya merupakan museum yang menyimpan koleksi dari aktivitas penambangan batu bara yang pernah berjaya di kota itu selepas perang dunia kedua hingga dihentikan sekitar tahun 1970-an. Tak hanya menyimpan koleksi, museum ini benar-benar berada di eks-tempat penambangan batu bara. Situs bekas penambangan batu bara bawah tanah dimanfaatkan sebagai sarana penyampaian informasi pada pengunjung. 

Pengunjung harus mengantri untuk bisa mengunjungi museum ini. Di bagian penjualan tiket pengunjung akan diberikan nomor kelompok keberangkatan. Biasanya pengunjung harus menunggu sekira 15-30 menit untuk masuk. Pengunjung akan diminta menunggu di satu bagian situs tempat para penambang berganti pakaian. Di ruangan luas itu dengan rantai besi di langit-langit tergantung baju-baju lusuh para penambang. Suasana sedikit spooky jika kita hanya sendirian di ruangan itu.


Seorang pemandu kemudian memanggil kloter-kloter pengunjung berdasarkan urutan yang didapat di meja tiket. Melewati lorong dan ruang mandi, pengunjung kemudian diminta memakai helm kuning penambang yang disediakan. Kami pun turun dengan lift. Di ruang bawah tanah, kami dipersilakan menaiki kereta yang dijalankan secara otomatis. Kereta itu sebenarnya adalah pengangkut batu bara, dulu. Kereta akan berhenti sekali-sekali hingga di titik tertentu pengunjung dipandu untuk turun dan melanjutkan kunjungan dalam gua tambang dengan berjalan kaki. 


Di sepanjang lorong gua itu terdapat beberapa televisi yang menayangkan penjelasan tentang tambang dan proses penambangan. Suasana dalam tambang pun dibuat mengikuti keadaan sebelumnya dengan penempatan peralatan tambang, patung-patung manusia dan kuda (dulu kuda juga dibawa masuk ke dalam tambang sebagai pengangkut batu bara dan tinggal dalam tambang) ditambah dengan backsound atau latar suara kuda dan bunyi alat-alat tambang. 

Di dekat tempat penjualan tiket terdapat toko suvenir kecil, ruang audio visual dan ruang pameran temporer. Semua memanfaatkan bangunan yang ada di sekitar situs. Meskipun dari luar tampak kumuh, tua dan tidak terurus, ide memanfaatkan tempat ini sebagai museum tematik patut diacungi jempol.

Sebenarnya saya tidak terlalu betah berada di dalam tanah, tapi saya menikmati menaiki kereta pengangkut batu bara dan  ingin mengunjungi lagi museum ini jika ada kesempatan. 

Note: Foto milik http://pl.tripadvisor.com/ 

Minggu, 18 Juli 2010

Keroncong dan pasar malam: perkenalan singkat


Pada abad ke 15, bangsa Portugis untuk pertama kali menjejakkan kaki di Nusantara. Dengan sendirinya proses akulturasi budaya pun berlangsung. Salah satu peninggalan akulturasi budaya ini adalah musik keroncong.

Secara sederhana keroncong adalah musik gamelan yang dimainkan dengan alat musik Eropa yang didominasi alat musik senar seperti gitar. Sementara untuk vokal mengikuti irama pelog atau slendro.

Di Indonesia jenis musik ini sekarang dinilai kuno dan ketinggalan jaman. Hanya sedikit kelompok masyarakat yang masih menikmati warisan budaya ini. Saya ingat ketika saya kecil ayah dan kakek saya senang sekali dengan musik keroncong. Beberapa nama musisi yang saat itu terkenal adalah Muljiono bersaudara.

Bulan Mei yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi pasar Indies (sekarang menjadi pasar Eurasia) yang bernama Tongtong Festival di Den Haag, Belanda.

Tongtong Festival bermula dari inisiasi seorang warga Belanda keturunan Indonesia yang beremigrasi setelah perang kemerdekaan karena ia menemui kesulitan hidup sebagai WNI. Ketika itu sentimen anti Belanda masih sangat kuat bergaung dan hal ini mempersulit kehidupan warga campuran.


Pada awalnya Tongtong Festival diperuntukkan sebagai sarana temu kangen dan kumpul-kumpul para penduduk ex-Hindia Belanda namun kemudian berkembang dan menjadi pasar malam Eurasia terbesar di Belanda. Di pasar tersebut bisa ditemukan berbagai produk makanan, pakaian, pernak-pernik khas Indonesia (Jawa). Bahkan ada area khusus yang diperuntukkan bagi produk-produk asli Indonesia di Indonesian Pavilion.

Dalam festival tersebut dihadirkan kelompok musik Keroncong Tugu dari Jakarta, Indonesia. Kelompok ini telah mengisi acara hiburan di Tongtong Festival secara rutin sejak 1989.
Untuk sementara keroncong masih hidup di pasar malam Tongtong Festival. Bagaimanakah kelanjutannya di masa depan di nusantara?

Minggu, 27 Juni 2010

Uniknya Napoli - catatan EM (4)



Napoli adalah kota di Italia selatan. Kota ini tergolong kota besar dengan jumlah penduduk mencapai 1-2 juta jiwa, masih kalah dari Bandung sebetulnya, tapi bagi mereka jumlah itu sudah banyak sekali.

Kota ini dulunya adalah kota koloni Yunani. Napoli berasal dari kata nea-polis yang berarti kota baru. Kota lamanya bernama Parthenopolis. Lokasi pusat kota Parthenopolis dan Neapolis tidaklah berjauhan dan sekarang sudah bergabung menjadi pusat kota Napoli.

Di daerah selatan Italia ini, meskipun ia notabene kota besar, dan bisa disebut sebagai kota 'metropolitan', tapi masih bisa ditemui aktivitas-aktivitas tradisional khas warga setempat. Misalnya, saya sering sekali menemui ibu-ibu, terutama yang agak sepuh, berbelanja melalui tetangganya. Mungkin hal semacam ini bisa ditemui di mana saja.Hal yang unik adalah cara mereka bertukar belanjaan. 

Para ibu yang tinggal di apartemen lantai atas menurunkan keranjang yang diikat tali ke bawah, orang yang dititipi belanjaan kemudian menaruh barang pesanan dalam keranjang tersebut. Ketika transaksi selesai, si ibu pembeli menarik keranjang kembali ke atas, persis kegiatan orang menimba. Untuk tukar informasi mereka cukup saling berteriak satu sama lain. Kepercayaan di antara mereka masih sangat kuat meskipun mereka banyak menaruh curiga terhadap para pendatang. 

Kedua, di sudut-sudut rumah dengan mudah ditemui cekukan di dinding yang dipasangi gambar perawan Maria atau Yesus lengkap dengan lilin dan bunga. Kadang-kadang juga bisa ditemui potret anggota keluarga yang telah meninggal di sisi gambar tadi.

Ketiga, di daerah tempat saya tinggal tahun lalu, setiap minggu pagi datang pengamen. Di Indonesia yang namanya pengamen sih biasa, lalu apa anehnya pengamen Napoli?

Pengamen Napoli ini tidak sendirian. Mereka adalah kelompok drum band yang hanya muncul setiap hari minggu pagi. Di kala ada hari besar, misalnya paskah, kelompok ini menjadi atraksi unik dengan parade solo mereka sambil membawa patung Maria dan memainkan musik-musik tradisional daerah selatan.

Kemudian, hal yang paling menarik adalah jemuran. Jemuran bertebaran di dinding-dinding luar apartemen. Di pusat kota bisa ditemui rentangan jemuran antar gedung. Semua bisa ditemukan di rentangan jemuran itu, mulai dari handuk sampai pakaian dalam.

Di luar kisah mafianya yang terkenal dan slogan menakutkan "kau lihat, kau mati"nya, Napoli memiliki kisah uniknya sendiri. Warganya masih dengan sadar memegang tradisi bersama-sama hingga hari ini.


*Kiriman ulang dari catatan Facebook 14 Juni 2010 jam 0:45

Rabu, 23 Juni 2010

Melantjong ke Rio, mengikis stereotip

Orang-orang mungkin sedang sibuk mencari berita terbaru tentang skor terakhir piala dunia atau kelanjutan kasus video Ariel-Luna-Cut. Di lain pihak berita-berita tentang kebudayaan selalu muncul sekilas dan seperlunya.

Seorang kawan yang saya kenal secara daring, bahkan hingga sekarang belum saya temui di dunia nyata telah menapaki lagi satu anak tangga keberhasilan dengan proyeknya. Tahun lalu ia bertanya padaku tentang program kuliah yang kuikuti. Kemudian ia menginisiasi sebuah kegiatan wisata yang dinamainya Melantjong Petjinan Soerabaia. Di luar dugaan, proyek kecil-kecilan ini mendapat respon positif dan berkembang dengan baik. Ia baru saja kembali dari Rio de Janeiro, Brasil, dalam rangka memenuhi undangan dari UNAoC (United Nation Alliance of Civilization). 

Dalam presentasinya ia menyampaikan bahwa motifnya memulai kegiatan wisata budaya tersebut adalah untuk mengikis stereotip negatif terhadap warga etnis Tionghoa di Indonesia. Ya, Indonesia memang kaya dengan berbagai stereotip. Sayang kebanyakan stereotip maknanya negatif. Saya teringat beberapa tahun lalu di bangku kuliah teman-teman saya sering bercanda tentang stereotip. Misalnya: Jawa identik dengan pembantu, Sunda yang matre, Batak yang kebanyakan berprofesi sebagai sopir angkot di kota saya atau Padang sang pemilik fotokopi dan rumah makan. 

Stereotip tidak selalu benar. Contohnya saya yang keturunan Sunda-Jawa tidak menjadikan saya 'pembantu matre'. Namun harus diakui bahwa stereotip sangat mengganggu aliran komunikasi dan integrasi masyarakat.

Isu stereotip yang sekarang merebak di dunia adalah Islamophobia dengan berbagai aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam. Inilah yang memperburuk nama Islam dan membuat orang luar tidak percaya dengan ajarannya. Belum lagi komunitas Islam keras di tanah air yang kadang mengusik ketertiban umum dan merusak dengan dalih demi penegakan syariah. Saya sendiri yang seorang muslim kadang merasa tidak nyaman dengan aksi mereka yang terkadang agresif. Padahal dulu walisongo pun saling menghormati meski mereka terbagi ke dalam kelompok santri dan abangan. 

Warga Tionghoa Indonesia pun telah hidup dalam stereotip yang diciptakan pemerintah kolonial yang berlanjut hingga setelah kemerdekaan. Di jaman orde baru, segala sesuatu yang berbau China dilarang dengan isu komunisme (ketika itu China inland berubah haluan menjadi negara komunis). Padahal sebagian besar warga Tionghoa Indonesia telah tinggal selama ratusan tahun di tanah air dan secara tidak langsung telah putus hubungannya dengan negara induk. 

Hari ini, warga Tionghoa identik dengan pengusaha kaya. Masyarakat lupa bahwa etnis Tionghoa pun ada kelas rakyat jelata yang hidupnya biasa-biasa saja. Ambillah contoh warga China Benteng di Tangerang. Dua bulan lalu mereka terancam digusur dari tempat tinggalnya tanpa penggantian dari pemerintah. Siapa yang membantu mereka? Entah bagaimana kelanjutan kasus itu, belum sempat saya cari lagi beritanya.

Berkat kepemimpinan almarhum Gus Dur yang pluralis, kebudayaan etnis Tionghoa kembali diakui, bahkan Imlek menjadi salah satu hari besar nasional. Ada baiknya membaca tulisan-tulisan karya T.H.Pigeaud dan H.J. de Graaf, Slamet Muljana, Denys Lombard untuk mempelajari sejarah dan perkembangan etnis Tionghoa di Indonesia.

Stereotip membuat orang kehilangan kepercayaan dan menaruh curiga terhadap hal-hal yang asing baginya dan terjadi karena ketidaktahuan. Pembukaan wawasan budaya dan pengenalan sejarah adalah hal penting untuk memahami sebab akibat dari segala sesuatu yang kita pertanyakan hari ini, dan hal itu juga mendorong masyarakat untuk berpikir lebih kritis tanpa menghakimi.

*Catatan tambahan: Contoh lain usaha mengikis stereotip negatif dilakukan oleh Shah Rukh Khan melalui filmnya "My name is Khan (but I'm not a terrorist)".

Selasa, 22 Juni 2010

Stuttgart Weihnachtmarkt

Musim telah berganti. Musim dingin telah digantikan musim semi yang kini segera digantikan musim panas. Tahun ini cuaca agak aneh. Udara dingin dan salju berlangsung lebih lama dari tahun sebelumnya. Bahkan di daerah selatan Prancis, kot pelabuhan yang biasanya bermandikan cahaya matahari musim dingin seklai pun kali ini diterpa salju tebal, dan itu terjadi di akhir bulan Februari. Hal sangat langka terjadi bahkan bagi penduduk asli kota tersebut yang sudah tinggal di sana hampir seumur hidupnya.
Saya suka putih dan lembutnya salju yang baru turun. Namun saya tidak suka basah dan beceknya jalanan karena salju yang mencair.

Saya melewatkan musim dingin tahun 2009 di kota Stuttgart. Untungnya pemanas di apartemen berfungsi dengan baik. Dinginnya udara luar benar-benar menyiksa. Tangan dan kakiku hampir pasti selalu membeku.
Stuttgart di musim dingin terkenal dengan penurunan suhu, Oktoberfest dan Weihnachtmarkt-nya.

Oktoberfest adalah festival tahunan yang bertempat di taman terbesar kota Stuttgart dan berlangsung selama tiga minggu, dimulai akhir September dan berakhir pada pertengahan Oktober. Sementara Weihnachtmarkt adalah pasar natal yang berlangsung selama satu minggu sebelum natal.

Para Stuttgarter (penduduk kota Stuttgart) mengkalim Weihnachtmarkt mereka sebagai pasar natal terbesar di seluruh Eropa. Pasar ini memang cukup besar dengan memanfaatkan area di sekitar Schlossplatz hingga Rathaus. Di pasar ini bisa ditemukan berbaai hiasa tradisional yang dibuat dengan tangan. Karya-karya seni unik berbahan kayu yang tidak bisa ditemukan di toko-toko cinderamata biasa.

Untuk karya-karya tersebut tentu harga yang dipasan gjuga tidak sama dengan barang-barang pabrikan. Tapi hati-hati,karena tidak semua benda yang dijual adalah asli buatan Jerman. Benda-benda elektronik atau mekanik bisa jadi made in negara lain. Sementara untuk karya-karya tangan berbahan kayu, seperti mainan anak dan berbagai hiasan rumah, bisa dipastikan asli buatan tangan mereka.

Hal lain yang tidak bisa dipisahkan dari Weihnachtmarkt adalah kios makanan. Gluhwein dan Bratwurst adalah dua tipikal yang pasti akan ditemukan.

Malam itu hujan rintik menyertai langkahku menembus padatnya keramaian Weihnachtmarkt. Pernak-pernik dan mainan kayu yang cantik menggodaku. Sayang kondisi ekonomi tak mendukung untuk mengoleksi benda-benda cantik itu.

Tak ada salahnya mampir ke Weihnachtmarkt ini, salah satu peninggalan tradisi masyarakat Jerman, jika sedang berkunjung ke Stuttgart menjelang natal.

*Foto dalam tulisan ini diambil di Oktoberfest 2009*

Minggu, 09 Mei 2010

My Zeil

Jerman memang laboratorium arsitektur modern. Berada di jantung kota Frankfurt, di kawasan perbelanjaan Konstablerwache, pusat perbelanjaan ini dirancang oleh arsitek Italia Massimiliano Fuksas dan dibuka secara resmi pada 26 Februari 2009 lalu.
Di luar My Zeil adalah kawasan pedestrian shopping mall The Zeil yang lengkap dengan ruang hijau di antaranya. Arsitek Jürgen Engel mereferensi pada konsep live-cell therapy yang ditujukan pada kawasan the Zeil sebagai “menciptaan ruang untuk mendapatkan pengalaman keurbanan”.
Dari jauh bangunan komersial ini tampak tidak terlalu istimewa, seperti bangunan transparan biasa, kecuali lubang yang memilin di tengahnya. Lubang itulah yang membuat  penasaran pejalan kaki sehingga memutuskan masuk untuk melihat interiornya.
Struktur My Zeil memang istimewa. Bangunan ini termasuk berlanggam dekonstruksi. Lubang yang muncul di bagian muka memilin seperti angin puting beliung. Struktur kulitnya (shell) pun mengikuti bentuk itu hingga ke bagian dalam. Kulit ini, yang dibuat dengan sistem curtain wall, menjadi façade dan atap gedung. Uniknya, bangunan dekonstruksi ini bisa berpadu dengan bangunan lain yang mengapit di kiri-kanannya. Ia tidak berdiri sendiri seperti kebanyakan bangunan berlanggam sama.
Saya teringat dengan pekerjaan membuat gambar kerja arsitektur. Meskipun tingkat kerumitan bangunannya tidak seperti My Zeil, tapi pekerjaan itu cukup membuat kepala pusing. Tak terbayang seandainya saya diminta membuat gambar kerja untuk struktur ini.
Lubang itu seperti kulit tampak yang ditarik ke belakang membentuk tabung kerucut di bagian interior. Cobalah cubit permukaan kain pakaian, kemudian pilin, tarik ke arah belakang bawah. Seperti itulah bentuk lubang tabung pada facade My Zeil. Tabung tersebut sebetulnya tidak memiliki fungsi apa-apa selain fungsi estetis dan benda itu hanya menjadi penampung salju yang turun dengan derasnya.
Jika bangunan ini dibuat di Indonesia mungkin akan menuai protes dari para ahli struktur dan konstruksi. Karena selain lubang tersebut tak berguna, juga hanya menambah kesulitan dalam perawatan bangunan. Salju yang turun ke dalam tabung dan tertampung tentunya harus dibuang dan struktur tabung pun harus cukup kuat menahan beban salju yang menimpanya. Itu artinya material bangunan yang 90% berupa kaca pun harus dipilih dan diperhitungkan kekuatannya dengan baik.
Penggunaan bahan kaca di kulit  My Zeil dapat memaksimalkan masuknya cahaya siang hari ke bagian dalam. Pemakaian bahan transparan juga menciptakan nuansa lapang, luas, terbuka pada bagian interior yang terdiri dari atrium berlantai delapan.
Desain interiornya sangat menarik dan tidak membosankan. Setiap titik memberikan pemandangan yang berlainan. Lubang-lubang untuk tangga berjalan dibuat dengan bentuk bukaan berbeda-beda. Tangga berjalan yang dipilih pun menggunakan sistem berdiri bebas (free standing escalator), artinya tangga-tangga berjalan itu memiliki struktur penopangnya sendiri bebas dari bangunan. Tentu hal ini, di Indonesia, kembali akan (mungkin) menuai protes para insinyur sipil. "Bikin bangunan kok ribet amat sih, kan susah ngitunganya! Dasar arsitek".


Klik judul untuk melihat foto di laman blog saya yang lain.