Tampilkan postingan dengan label warisan budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label warisan budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2012

Dalang

Waktu itu hari Sabtu malam. Saya sendirian menunggu suami pulang sambil mengerjakan pekerjaan ekstra, proyekan dari luar kantor. Hujan turun cukup deras. Di rumah sunyi sepi. Televisi saya nyalakan. Remote TV pun bekerja. Bolak-balik saya pijit tombol angka pada permukaannya, tak juga ditemukan saluran yang menayangkan acara berbobot. Tujuh puluh persen stasiun TV menayangkan sinetron yang saya tidak pernah suka. Akhirnya saluran kembali berpindah. Kali ini ke stasiun TV lokal Bandung. Acaranya pagelaran pertunjukkan wayang golek. Sepertinya acara sudah berlangsung cukup lama.

Saya bertahan di pagelaran wayang golek. Saya ingin tahu lakon yang dibawakan dan siapa dalangnya. Ternyata lakonnya adalah pencarian satria piningit yang melegenda. Sang dalang adalah juga dalang legendaris wayang golek, Asep Sunandar Sunarya. Beberapa kali kamera mengarah ke arah penonton. Rupanya di situ ada Gubernur Jawa Barat. Pagelaran sendiri diadakan di Sumedang. 

Kisah pun terus berlanjut. Alkisah, Semar bersama seorang patih pergi bersemedi. Semar mengatakan bahwa ia dan sang patih akan turun ke negeri lain untuk mencari satria piningit dan mereka berdua pun bersalin rupa (atau justru Semarlah sang satria piningit itu?) menjadi ksatria untuk menjalankan tugas di suatu negeri yang sedang carut-marut.

Singkat cerita, Semar dan patih yang sudah salin rupa pun pergi mengemban tugas. Rupanya Cepot, putra Semar, kehilangan ayahnya. Ia mencari-cari sang ayah ke mana-mana. Tak jua ia temukan sang ayah. Cepot, yang seperti biasa sangat interaktif dengan penonton, bertanya pada penonton ke mana gerangan ayahnya pergi. Penonton tak ada yang memberi tahu. Alih-alih, Cepot justru melihat kehadiran sang Gubernur. Ia pun akhirnya berdialog dengan sang Gubernur.

Lalu apa yang istimewa dari kisah di atas? Yang akan disoroti di sini bukanlah lakon yang dibawakan pada pagelaran tersebut, bukan pula mengenai kesenian wayang yang sudah sangat langka. Yang akan menjadi fokus kali ini justru adalah sang pengatur lakon, sang dalang.

Beberapa pengertian mengenai "dalang" bisa dilihat di catatan Buku Muka (Facebook) dalang Asep Sunandar Sunarya sediri di tautan berikut: http://www.facebook.com/notes/asep-sunandar-sunarya-grh-3/dalang/113133478720799. Ada sembilan definisi "dalang" dalam tulisan tersebut. Apapun definisi yang diambil, yang terpenting adalah memahami peran dalang dalam sebuah pertunjukkan.

Dalang adalah seorang serbabisa yang berlaku sebagai aktor, sutradara, penyusun naskah, sekaligus pendongeng dalam sebuah pagelaran wayang terutama wayang golek dan wayang kulit. Oleh karena perannya yang sangat beragam tersebut, maka seorang dalang haruslah seseorang yang memiliki kecerdasan dan kepekaan tinggi. Ia harus memiliki imajinasi, kreativitas dan pengetahuan yang luas. 

Bisa dilihat dalam adegan Cepot berdialog dengan Bapak Gubernur, bagaimana sang dalang harus memiliki pengetahuan politik dan sosial yang aktual. Ia harus bisa menyesuaikan lakon-lakon klasik dengan situasi saat ini, meskipun menggunakan tokoh-tokoh wayang klasik seperti Pandawa dan Kurawa. Bisa dibayangkan jika seorang dalang tidak inovatif, maka orang akan sudah bosan dengan cerita yang itu-itu saja dan bisa dipastikan saat ini seni pagelaran wayang sudah tidak ada lagi peminatnya. Namun hal itu tidak terjadi, karena sang dalang mampu beradaptasi dengan kondisi sosial budaya aktual sehingga unsur penghiburan dan pendidikan dari suatu pertunjukkan wayang tetap mampu membuat para penggemarnya bertahan.

Dalang harus mampu merangkai cerita sebagai penulis naskah, ia harus mampu membawakan cerita bak seorang pendongeng, ia harus mampu memainkan cerita tersebut melalui berbagai karakter wayang sebagai multi-aktor, ia harus mampu menyampaikan pesan-pesan moral pada masyarakat lewat ceritanya seperti seorang guru, ia harus mampu menghibur penontonnya lewat selingan candaan seperti pelawak, ia harus berwawasan luas dan terbuka. Sepertinya itulah esensi seorang dalang. Dalang adalah sutradara, penulis naskah, pendongeng, aktor, guru, pelawak/penghibur, pembelajar sejati. Sungguh luar biasa kemampuan seorang dalang.

Dalam dunia pewayangan, ternyata unsur utamanya adalah dalang. Tanpa kehadiran dalang yang mumpuni, akan punah pula tradisi pendidikan luar biasa ini. Wayang sejak dulu telah digunakan sebagai media pendidikan, selain penghiburan, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga untuk mendakwahkan Islam. Perlu pula kiranya saat ini peran seorang dalang untuk memintarkan masyarakat, terutama masyarakat yang jauh dari akses pendidikan tinggi berkualitas. Seorang dalang dan wayangnya sebetulnya dibutuhkan untuk memberikan informasi mengenai aktualitas dan mendidik masyarakat terkait aktualitas tersebut. 

Akankah pemerintah yang berkepentingan melihat dalang dan wayang seperti itu? Sebagai salah satu medium pencerdasan masyarakat? Akankah ada kepedulian lebih banyak pada kesenian wayang dan para pelakunya untuk kepentingan bangsa yang lebih luas? Semoga seni adiluhung ini tidak berhenti di tingkat dokumentasi dan pencatatan wayang (kulit) sebagai Oral World Intangible Heritage-nya UNESCO. Semoga di masa mendatang segera lahir Asep-Asep Sunandar Sunarya yang lain. 

 

Jumat, 12 Oktober 2012

Braga Project Poster

Exhibition starting today until 14 of October at Rutgers Chaps University, New Jersey, USA.

Braga Project, usulan untuk perbaikan kawasan Braga berdasarkan kondisi aktual.


Posternya sudah sampai ke Amerika, semoga orangnya segera menyusul :)
Wish I were there :(

Minggu, 11 Maret 2012

Refleksi Pelatihan Madya

Tanggal 10-11 Februari lalu saya mengikuti pelatihan advokasi warisan budaya yang dikoordinir oleh MADYA atau Masyarakat Advokasi (Warisan) Budaya. Saya datang untuk memenuhi undangan kawan sesama pelestari, yang kebetulan juga merupakan koordinator LSM tersebut, dan untuk mewakili LSM tempat saya bernaung. Saya dan koordinator MADYA bertemu pertama kali di Bandung pada awal tahun 2011 di Kedai Kopi Mata Angin (tidak bermaksud untuk promosi). Sebetulnya perkenalan kami sudah dimulai sejak lama, sejak dibentuknya MADYA untuk pertama kali dan kontak kami berlanjut hingga saat ini. 

Berbagai persoalan terkait warisan budaya dan pelestariannya dibahas dalam pelatihan tersebut. Sorotan utama adalah pada proses advokasi. Awalnya diskusi dan pemaparan berfokus di ranah hukum, meskipun demikian, pada akhirnya disepakati bahwa proses advokasi meliputi semua kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan warisan budaya. Tanpa melihat bentuk tindakan yang dilakukan (tentunya tidak termasuk tindakan makar).

Dari beberapa kasus yang mencuat dalam diskusi, tampak bahwa kebanyakan pelestari mengambil langkah dan metoda akar rumput, tetapi melupakan lobi di tingkat eksekutif. Dengan demikian berbagai proses advokasi yang terjadi menjadi kegiatan perlawanan dan kontra eksekutif. Hal yang sebetulnya wajar dilakukan berbagai LSM. Kisah dengan warna sedikit berbeda sebetulnya telah dilakoni oleh Bandung Heritage ketika mereka bersikap ekslusif dan menempatkan diri pada strata eksekutif meskipun tetap pada posisi berlawanan. Yang pada akhirnya ekslusivitas ini menjadi wajah dan citra organisasi, sehingga membuat masyarakat akar rumput merasa perlu menggantungkan diri pada organisasi ini untuk berbagai permasalahan yangterkait dengan warisan budaya dan cagar budaya. Tampaknya sikap ideal adalah dengan melakukan kontak intensif di kedua sisi eksekutif dan akar rumput.

Hal yang cukup menarik perhatian saya adalah ide untuk menjadi pelestari cerdas. Ide tersebut dilontarkan salah seorang peserta, yang saya lupa namanya. Peserta ini mencontohkan bahwa dalam pelestarian warisan budaya, kita berkejaran dengan waktu. Hal yang sangat benar adanya. Ketika kita sibuk melakukan lobi di berbagai tingkatan, secara legal ataupun ilegal, ada pihak-pihak yang secara sadar melakukan aksi untuk menghabisi warisan budaya tersebut. Sehingga ketika pada akhirnya lobi berhasil dan kesepakatan diperoleh, warisan budaya tadi mungkin sudah hilang tanpa sisa. Oleh karena itu, perilaku cerdas perlu diakukan. Misalnya seperti kasus penyelamatan Mount Builder suku Indian di Amerika Serikat. Untuk menggolkan upaya mereka dalam menyelamatkan situs tersebut, LSM setempat berlomba dengan investor. Pada akhirnya salah satu upaya mereka membuahkan hasil. Mereka mengundang investor lain yang mau berinvestasi di situs tersebut. Investor yang diundang untuk menandingi investor pemerintah adalah pengembang lapangan golf. Upaya tersebut berhasil baik. Lapangan golf terbangun dan situs Mount Builder tetap lestari. 


Sekarang, bagaimana kita menyiasati hal serupa di Indonesia? Di sinilah kreativitas kita diuji. Saya secara pribadi belum berbuat banyak terhadap warisan budaya, baru sebatas tahap pencarian dan pencatatan. Ide-ide yang telah dikembangkan bersama kawan-kawan pelestari di Bandung belum menghasilkan apapun dikarenakan kesibukan masing-masing. Mungkin hal paling sederhana yang bisa dilakukan saat ini adalah dengan menulis. Dengan harapan tulisan ini dapat menginspirasi dan mengawali sesuatu yang lebih besar. 

Berikut adalah tautan sebuah tulisan mengenai pelatihan ini yang ditulis oleh peserta asal Solo.

Salam pelestarian!

Senin, 02 Januari 2012

Musikal Lutung Kasarung - ulasan pribadi

Saya sebetulnya ingin mengulas sejak beberapa hari yang lalu. Sayang, jaringan internet yang jelek menghambat. Maka inilah posting pertama saya di tahun 2012. 
 
Pohon langit Lengser dan Pohaci Ambu muncul untuk menceritakan sebuah legenda. Legenda yang sangat dikenal tentang perjalanan penghukuman dan pembebasan diri dari penghukuman lewat ketulusan dan kasih sayang. Kisah tentang pangeran langit yang dihukum turun ke bumi karena hanya bersedia menikah dengan wanita yang seperti ibunya, Sunan Ambu. Kisah yang membalikkan kenyataan antara si sulung yang biasanya paling banyak berkorban dengan si bungsu yang biasanya manja dan mau menang sendiri. 

Di bumi pergolakan tengah terjadi. Sang raja mangkat. Putri-putrinya yang berjumlah tujuh diperintahkan menjaga wasiatnya. Purbasari, putri termuda harus naik takhta. Purbararang, putri tertua memegang tampuk kekuasaan hingga si bungsu beranjak dewasa.  

Namun kekuasaan membutakan sang kakak. Ia pun mengupayakan berbagai cara untuk menyingkirkan sang adik. Jodoh memang tak akan ke mana. Putri kecil dikirim ke hutan dan akhirnya bertemu sang Lutung, jelmaan Guruminda. Lutung pun membantu putri kembali ke takhta. Dan ia pun, karena ketulusannya, dibebaskan dari hukuman untuk memimpin negeri bersama Purbasari.

Cerita dibalut sentuhan modern dengan sedikit nyepet-nyepet keadaan di negeri ini. Alunan musik, nyanyian dan tarian dalam musikal ini tertata apik diselingi nuansa etnik yang kental sungguh sangat menghibur. Diselingi humor-humor ringan dalam bahasa Sunda, teater musikal ini seharusnya menjadi tontonan rutin masyarakat. Duet jaipong tukang bubur dan istrinya betul-betul luar biasa, paporit pokona mah. Vokal para pemain pun sangat baik. Vokal terbaik favorit saya adalah Sunan Ambu dalam balutan kostum yang sangat indah dan megah. Ngomong-ngomong kostum, mahkota lutung mengingatkan saya pada Raja Julian Si Ekor Cincin dari Madagaskar hehe

Dengan harga tiket yang lumayan tinggi, agak sulit bagi masyarakat biasa bahkan untuk sekedar berpikir menyaksikan pertunjukan ini. Mungkinkah jika pertunjukan dibuat rutin harga tiket dapat diturunkan? Tapi kasihan juga para pemainnya.

Hal yang mengganjal dalam pertunjukan adalah penempatan panggung yang besar sehingga hampir memakan seluruh ruang Sabuga. Penonton kelas 2 nyaris tak dapat melihat apa-apa kecuali stager-stager. Untuk 150 ribu rupiah, hanya dapat melihat stager adalah hal yang sangat mengecewakan. 

Hal lain yang mengganggu adalah presentasi seluruh kru pendukung pertunjukan di akhir acara. Seluruh kru pendukung belakang layar ditampilkan satu per satu, sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting. Mungkin maksudnya adalah untuk memberikan penghargaan pada tiap kru, tetapi justru menjadi bagian yang paling mengganggu dan membosankan penonton. Cukuplah penghargaan terhadap kru disebutkan secara sekilas, diwakili oleh para pemain yang muncul serempak dan memberikan salam akhir pada penonton. Setidaknya itulah yang saya lihat ketika menonton teater di Jerman, sehingga tepuk tangan penonton pun terdengar meriah dan membahana di seluruh ruang teater. Tentunya mendengar tepukan tangan meriah dari penonton akan lebih membanggakan bagi pemain dan kru. Hal yang tidak terdengar di Sabuga karena musik terus mengalun dan MC terus menyebutkan nama-nama tanpa henti. Akhirnya tepuk tangan kami kasilep alunan musik, dan kami pun menjadi agak malas bertepuk tangan berkali-kali. 

Secara keseluruhan, musikal ini wajib ditonton oleh masyarakat Sunda. Karena masyarakat Sunda terbentang dari Jawa Barat hingga Banten. Dua jempol untuk lutung. 

*n.b. Poster diunduh dari situs resmi Musikal Lutung Kasarung.

Selasa, 15 November 2011

Komodo dan Dunia

Saat ini sedang segala sesuatu yang berbau tradisi dan etnik sedang dalam tahap naik daun setelah beberapa tahun ke belakang hal-hal yang sama dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Isu yang sedang panas saat ini adalah pemilihan tujuh keajaiban dunia yang baru (The New 7 Wonders of The World). Banyak orang dan tokoh mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mempromosikan pulau Komodo sebagai satu-satunya calon tersisa dari Indonesia agar dapat masuk ke dalam daftar tujuh keajaiban dunia, yang sekarang telah dinyatakan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Pemilihan tersebut diadakan oleh sebuah organisasi bernama sama. 

Di tengah pesimisme dan keraguan terhadap kredibilitas organisasi penyelenggara, pemerintah Indonesia tetap gencar menginformasikan kegiatan ini pada masyarakat untuk mendapatkan dukungan. Hal ini dilakukan dengan dalih Borobudur telah dicoret dari daftar tujuh keajaiban dunia. Beberapa kalangan menganggap promosi berlebihan dilakukan terhadap Komodo. Ketidaktahuan dan informasi yang kurang akurat juga mengakibatkan reaksi nasionalisme berlebihan dari masyarakat.

Pada kenyataannya Pulau Komodo telah diakui dunia sejak lama melalui UNESCO, salah satu badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, sebagai salah satu warisan dunia yang wajib dilindungi dan dipelihara keberadaannya. 

Apa sebetulnya kelebihan dan kekurangan dari pengakuan suatu situs atau warisan budaya oleh lembaga ini?  Jika pemerintah setempat pandai mengelola “harta” yang dimiliknya dan cermat dalam melihat kesempatan, pengakuan yang diberikan UNESCO memiliki beberapa kelebihan. Promosi global adalah salah satunya. Banyak orang oksidental beramai-ramai mengunjungi situs-situs berlabel ‘UNESCO’. Labelisasi ini membawa prestise tersendiri bagi situs atau tempat warisan budaya yang menyandangnya. 

Kenalkah kita dengan situs dan warisan budaya kita yang telah diberi label oleh UNESCO? Terdapat tujuh situs (arkeologis dan alami) dan empat warisan budaya tak benda berupa unsur kesenian tradisi Indonesia yang diakui dan dilindungi secara internasional. Satu di antaranya tanggal 22 Juni lalu ditetapkan sebagai Cagar Budaya Dunia yang Terancam – World Heritage in Danger.
Empat unsur tradisi yang diakui adalah keris, wayang kulit, batik dan angklung. Praktis semua unsur budya tak benda yang ada di pulau Jawa. Berita terakhir tari Saman akan diajukan sebagai unsur warisan budaya tak benda selanjutnya. 

Borobudur, Taman Nasional Lorentz, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Sangiran dan Pulau Komodo adalah lima di antara tujuh situs arkeologis dan alami yang terdaftar. Situs lain adalah Prambanan yang sedikit istimewa karena situs ini selain  berada di bawah perlindungan hukum internasional, ia tidak boleh dihancurkan oleh tangan manusia dalam keadaan konflik sekalipun. Situs berikutnya adalah Hutan Hujan Sumatera. Inilah situs yang dianggap UNESCO sedang berada dalam bahaya karena perburuan, pembalakan liar, merambatnya areal pertanian dan rencana pembangunan jalan melewati kawasan hutan lindung.

Kekhawatiran UNESCO tentu beralasan. Jika kegiatan-kegiatan tersebut terus berlangsung tanpa kontrol ketat dan jalan dibangun tanpa perencanaan matang tentu akan memberikan dampak negatif yang sangat besar. Dampak terparah adalah habisnya hutan hujan tersebut oleh pembangunan. Jika pemerintah tak kunjung memperbaiki pemeliharaan hutan dan tetap menjalankan rencana semula, situs inilah yang pertama akan dicoret dari daftar Warisan Dunia dan bisa dipastikan tak akan mendapat banyak bantuan internasional (dalam hal ini UNESCO) seandainya terjadi kerusakan atau bencana. Di saat ada warisan budaya yang jelas-jelas terancam keberadaannya mengapa pemerintah memaksakan untuk memperoleh gelar tujuh keajaiban dunia? 

Komodo sudah menjadi milik dunia. Sebelum menjadi milik dunia ia telah lebih dulu kita miliki. Banyak yang membutuhkan perhatian sama besarnya selain Komodo. Seperti Badak Jawa yang hanya tersisa 50 ekor di Ujung Kulon. Jika Badak-badak ini punah, maka Ujung Kulon pun akan dihapus dari daftar warisan budaya dunia UNESCO. Lalu apa pentingnya pengakuan tersebut ?

Masih ingatkah kita ketika Merapi meletus? Korbannya tak hanya rakyat, tapi juga situs-situs bersejarah. UNESCO menutup sementara Borobudur dan Prambanan untuk membersihkan situs dan memperbaiki kerusakan. Akan tetapi para pramuwisata di sana marah-marah dengan alasan UNESCO telah menutup mata pencaharian mereka. Bukankan jika kerusakan tidak diperbaiki dan kotoran tidak dibersihkan tidak akan ada turis yang darang lagi ke sana ? Jika kehilangan tersebut permanen tentu bukan hanya mereka tapi juga kita semua yang akan merasakan akibat jangka panjangnya. 

Komodo, Borobudur dan kawan-kawan bukan sekedar peninggalan masa lalu, tapi merupakan bagian dari sejarah asal-usul manusia Indonesia. Jika pemerintah dan masyarakat luas tak mampu mengakui kekayaan alam dan budaya untuk kemudian menjaganya dengan baik, pengakuan dan labelisasi dari luar sebanyak apapun tidak akan berarti apa-apa. Sebaliknya, pengakuan dari dalam yang diikuti upaya pelestarian secara menyeluruh akan lebih bermakna. Setiap warisan budaya ibarat kenangan peninggalan dari orang tua kita, milik generasi sekarang, yang ditinggalkan sebagai sarana pembelajaran bagi kita dan generasi mendatang.

Selasa, 25 Oktober 2011

Kebakaran Kampung Dukuh


*Sekedar dokumentasi. Agak telat re-post-nya.*

Kampung Adat Dukuh Garut Musnah Terbakar

ANTARA/M Agung Rajasa
TEMPO Interaktif, Garut - Kampung adat dukuh yang berada di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terbakar. Seluruh rumah adat dan fasilitas umum rata dengan tanah. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Namun seluruh peninggalan sejarah perkembangan Islam yang ada di kampung adat tersebut musnah dilalap si jago merah. “Tidak ada sedikit pun yang tersisa,” ujar Camat Cikelet, Rosidin, Sabtu, 10 September 2011.

Menurut dia, peristiwa kebakaran itu berlangsung cepat dalam waktu satu jam. Api mulai berkobar pada pukul 09.00 WIB dan berhasil dipadamkan pukul 10.00 WIB. Jumlah bangunan yang terbakar sebanyak 46 unit, di antaranya seluruh rumah adat yang berjumlah 40 unit, 2 rumah warga kampung adat Dukuh luar, dan empat sarana umum, seperti madrasah, masjid, MCK, dan rumah adat untuk pertemuan.

Penyebab kebakaran, lanjut Rosidin, diduga akibat pembalakan liar. Hutan yang tidak jauh dari Kampung Dukuh dijadikan kebun oleh warga luar dengan cara dibakar. Namun akibat angin kencang, percikan api dari pembukaan lahan tersebut terbawa ke permukiman.

Rumah adat yang terbuat dari bilik bambu dan beratap sirap atau ijuk langsung terbakar. Kobaran api langsung membesar karena tertiup angin yang cukup kencang. Jarak rumah yang saling berdekatan pun menyebabkan kebakaran hebat tidak dapat terelakan.

Akibat kondisi ini, seluruh warga kampung adat Dukuh yang terdiri dari 46 kepala keluarga yang dihuni 170 jiwa harus kehilangan harta benda dan tempat tinggalnya. Mereka kini mengungsi di tempat sanak saudaranya yang berada di Kampung Dukuh luar. ”Keadaannya memprihatinkan, semua yang kami miliki hilang,” ujar Kuncen Kampung Dukuh, Uluk Lukman.

Saat ini, kata dia, pihaknya belum mengetahui benda peninggalan sejarah apa yang masih tersisa akibat kebakaran ini. “Kami masih melakukan pengecekan semuanya,” ujarnya.

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Garut, Dikdik Hendrajaya, mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim untuk meringankan beban warga kampung adat Dukuh. Tim dari Dinas Kesehatan telah meluncur ke lokasi kejadian untuk mendirikan posko kesehatan. Sedangkan untuk kebutuhan logistik telah diterjunkan tim dari Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Transmigrasi Kabupaten Garut. “Kita masih terus melakukan pendataan untuk menyuplai kebutuhan warga di sana,” ujarnya.

Kebakaran hebat ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada tahun 2006 lalu, musibah kebakaran menghanguskan sekitar 51 bangunan dan sejumlah barang pusaka, seperti naskah kuno dari daluang dengan tulisan Arab gundul (pegon). Naskah tersebut berisikan silsilah masyarakat adat Dukuh, pantangan dan tata cara adat, serta berbagai sejarah, mulai dari pendirian Kampung Dukuh hingga ramalan (uga) sesepuh. Selain itu, juga sejumlah benda pusaka, seperti keris dan golok, hilang.

Kampung adat yang berjarak sekitat 150 kilometer arah selatan Kota Garut dengan luas sekitar 10 hektare ini merupakan cerminan budaya yang berlandaskan religi sangat kuat dengan pandangan hidup berlandaskan pada sufisme dengan berpedoman pada mazhab Imam Syafii.

Kesederhanaan dan keharmonisan di kampung ini terlihat dari keseragaman struktur dan bentuk arsitektur bangunan. Permukiman warga terdiri dari puluhan rumah yang tersusun pada kemiringan tanah bertingkat. Bangunan rumah berbentuk empat persegi panjang terbuat dari kayu atau bambu beratap daun ilalang yang dilapisi ijuk. Semua bangungan membujur menghadap ke barat dan timur. Ciri khas lainnya hingga kini tidak terpengaruh oleh kemajuan zaman, bahkan nyaris tidak mengenal perkembangan ilmu teknologi. Semua perkakas rumah tangga pun terbuat dari pepohonan.

SIGIT ZULMUNIR

Kampung Dukuh - rekonstruksi

*Semoga proses pelestarian kampung adat Dukuh dapat berjalan baik dan sesuai dengan nilai-nilai yang tradisi yang ada.*

 

 

Arsitek Hijau Bangun Kampung Dukuh

BANDUNG, (PRLM).- Pembangunan kembali Kampung adat Dukuh dalam yang ludes terbakar pada 10 September silam, akan melibatkan Green Architect (Arsitek Hijau) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Hal itu dikarenakan Green Architect memiliki dokumentasi lengkap Kampung adat Dukuh dalam sejak tahun 1987.
Penggagas Green Architect Unpar, Mulyono Akbar, menuturkan, sejak tahun 1985, Green Architect sudah mendokumentasikan dan membuat blue print rumah-rumah adat etnik khas Indonesia. Mereka sempat didokumentasikan adalah rumah adat di Kampung Dukuh.
"Kami mendokumentasikan Kampung Adat Dukuh di tahun 1987. Mulai sketsanya, gambar penampang, denah kampung, denah rumah, pembagian ruangan di dalam rumah, ornamen-ornamen, foto-foto, kosmologisnya, struktur bangunan, bahan-bahan bangunan yang dipakai, hingga larangan-larangan yang ada di sana" katanya kepada wartawan, di Gedung DPRD Prov. Jabar, Rabu (21/9) siang.
Mulyono yang didampingi sesama alumni Green Architect Unpar, Willy Atmaja, menjelaskan, selain 1987, tim dari Green Architect kembali mendokumentasi Kampung Adat Dukuh di tahun 2007. Itu dilakukan beberapa bulan setelah Kampung Adat Dukuh terbakar di tahun 2006 silam.
"Namun dokumentasi yang masih menggambarkan bangunan aslinya ialah dokumentasi yang tahun 1987. Dokumentasi itu yang akan menjadi acuan nanti," ucapnya.
Meski demikian, Green Architect atau Arsitek Hijau, tidak bisa serta merta menerapkan dokumentasi-dokumentasi yang ada dalam pembangunan kembali Kampung Adat Dukuh. "Harus memakai konsep partisipator plan. Artinya, kami dari tim harus tetap kembali ke lokasi. Melakukan wawancara kembali dengan warga kampung adat, bertukar pikiran, menginap di sana dan seterusnya. Tidak bisa satu arah. Harus semua elemen terlibat," katanya. (A-128/A-26).***

Jumat, 24 Juni 2011

Pengakuan dalam bahaya (Hutan Hujan Sumatra)!

Siapa sih yang tak kenal UNESCO? Mungkin banyak juga sih yang tidak kenal UNESCO. Lembaga ini merupakan salah satu anak PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Lembaga ini menerbitkan daftar warisan budaya bagi setiap negara, yang mereka akui memiliki nilai universal dan 'keaslian' yang unik. 

Indonesia telah menempatkan tujuh situs dan empat warisan budaya tak benda berupa unsur kesenian tradisi sebagai World Heritage atau warisan budaya dunia yang diakui UNESCO. Saat ini pemerintah melalui kementrian kebudayaan dan pariwisata semakin gencar mengajukan berbagai unsur kesenian tradisi (warisan budaya tak benda) agar diakui sebagai warisan budaya dunia. Kekayaan budaya terakhir yang diakui adalah angklung. 

Hari Rabu lalu, 22 Juni 2011, salah satu situs warisan budaya dunia milik Indonesia dicantumkan ke dalam daftar warisan budaya dunia dalam bahaya (World Heritage In Danger).  Situs tersebut adalah hutan hujan Sumatera yang melingkupi tiga taman nasional, yaitu, Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat dan Bukit Barisan Selatan yang luas keseluruhan mencapai 2,5 hektar. Alasan penggeseran situs ini menjadi situs dalam bahaya adalah karena perburuan, pembalakan liar, merambatnya areal pertanian dan rencana pembangunan jalan melewati kawasan hutan lindung. Tak bisa dipungkiri, pembangunan jalan akan mengakibatkan perkembangan tak terencana di sekitarnya. Sudah bisa dipastikan, kawasan hutan akan semakin rusak jika pembangunan jalan tetap dilakukan tanpa rencana matang dan rancangan global.

Sebetulnya apa sih pentingnya mendapatkan pengakuan dari UNESCO ataupun negara lain untuk situs-situs dan warisan tradisi? Jika pemerintah dan masyarakat luas tak mampu mengakuinya untuk kemudian menjaganya dengan baik, apa arti pengakuan internasional itu? Pengakuan dari luar tentu membantu memberikan semangat untuk melestarikannya di dalam. Akan tetapi, pengakuan dari dalam yang diikuti upaya pelestarian secara menyeluruh tentu akan lebih bermakna karena setiap warisan budaya adalah milik generasi sekarang, yang ditinggalkan oleh generasi pendahulu sebagai sarana pembelajaran, dan yang terpenting  adalah sarana pembelajaran bagi generasi mendatang.

Pengakuan itu penting, tapi cukupkah berhenti sampai di situ? Sudah banyak warisan budaya kita yang secara terang-terangan berada dalam ancaman kepunahan. Tak sedikit pula yang mengundang konflik karena diakui negara lain. Kita sendiri tak mampu mengakui dan menjaganya, tapi ketika pengakuan orang lain muncul barulah kita sibuk mengakui 'benda' tersebut.

Saatnya mengubah sudut pandang. Warisan budaya bukan sekedar peninggalan masa lalu, tapi merupakan bagian dari sejarah asal-usul manusia. Seorang muda mengatakan, warisan budaya ibarat kenangan peninggalan dari orang tua kita, tak mengakui warisan budaya sama saja dengan tidak mengakui keberadaan orang tua dan leluhur kita. Jika tak ingin 'harta keluarga' kita diambil orang lain, maka mulailah menjaganya sedikit demi sedikit. Jangan sampai ada lagi yang dalam bahaya!

Minggu, 22 Agustus 2010

Ke Hutan Hitam yuk! - Schwarzwälder Freilichtmuseum (1)

Hutan Hitam? Hutan berwarna hitam? Hutan berpohon hitam? Hutan yang saking lebatnya dijuluki hitam? Bukan lah ya. Hutan hitam yang dimaksud adalah Black Forest di Karlsruehe, Jerman, atau dalam bahasa Jerman disebut Schwarzwald

Berkunjung ke kawasan hutan ini, pengunjung tidak hanya disuguhi alam dan kegiatan lintas alam seperti hiking, di dekat hutan ini juga terdapat museum terbuka (open air museum) yang bernama Schwarzwälder Freilichtmuseum. Museum ini sengaja dibuka sebagai salah satu upaya penyelamatan kompleks hunian tradisional Jerman di kawasan Black forest yang hampir punah. 

Untuk sampai ke museum ini, dari stasiun kereta pengunjung bisa menyusuri area pertanian di pinggir rel kereta atau lewat jalan besar dengan kendaraan pribadi maupun bis. 

Salah satu pemandangan yang dilewati sepanjang jalan menuju museum.

Berjalan dari stasiun ke museum cukup melelahkan karena jarak yang ditempuh lumayan jauh sekira 20-30 menit berjalan kaki. Meski begitu, pemandangan yang dilewati tidak membosankan. Salah satunya adalah little house on the prairie ini, rumah impianku ^_^

Sampai di museum, pengunjung harus melewati ruang penerimaan tempat membeli tiket sekaligus toko souvenir sebelum memasuki kawasan museum. Di sana suasananya seperti suasana pertanian di desa, lengkap dengan peternakan dan penggilingan gandum yang benar-benar difungsikan untuk memperlihatkan cara kerjanya.

Di sana terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai ruang tinggal, gudang, kapel bahkan ruang sekolah anak. Bahkan dapur difungsikan dan pengunjung dapat memesan makanan khas yang dimasak secara tradisional langsung di dapur tersebut. Di bagian luar bangunan tertentu terdapat kotak pendingin yang berfungsi sebagai freezer untuk mengawetkan susu atau makanan lain.

Bangunan-bangunan dibangun mengikuti kontur lahan yang berbukit, mengikuti keadaan aslinya dalam hutan. Bentuk-bentuk bangunannya pun berbeda satu sama lain, masing-masing dengan keunikan sendiri. Sayang fotonya ada dalam harddisk dan saat ini saya sedang malas menyalakannya, so, foto dan detil ceritanyanya diunggah belakangan saja ya :p
Museum terbuka ini (open air museum) adalah salah satu museum yang membuat saya ingin kembali berkunjung. 





Minggu, 18 Juli 2010

Keroncong dan pasar malam: perkenalan singkat


Pada abad ke 15, bangsa Portugis untuk pertama kali menjejakkan kaki di Nusantara. Dengan sendirinya proses akulturasi budaya pun berlangsung. Salah satu peninggalan akulturasi budaya ini adalah musik keroncong.

Secara sederhana keroncong adalah musik gamelan yang dimainkan dengan alat musik Eropa yang didominasi alat musik senar seperti gitar. Sementara untuk vokal mengikuti irama pelog atau slendro.

Di Indonesia jenis musik ini sekarang dinilai kuno dan ketinggalan jaman. Hanya sedikit kelompok masyarakat yang masih menikmati warisan budaya ini. Saya ingat ketika saya kecil ayah dan kakek saya senang sekali dengan musik keroncong. Beberapa nama musisi yang saat itu terkenal adalah Muljiono bersaudara.

Bulan Mei yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi pasar Indies (sekarang menjadi pasar Eurasia) yang bernama Tongtong Festival di Den Haag, Belanda.

Tongtong Festival bermula dari inisiasi seorang warga Belanda keturunan Indonesia yang beremigrasi setelah perang kemerdekaan karena ia menemui kesulitan hidup sebagai WNI. Ketika itu sentimen anti Belanda masih sangat kuat bergaung dan hal ini mempersulit kehidupan warga campuran.


Pada awalnya Tongtong Festival diperuntukkan sebagai sarana temu kangen dan kumpul-kumpul para penduduk ex-Hindia Belanda namun kemudian berkembang dan menjadi pasar malam Eurasia terbesar di Belanda. Di pasar tersebut bisa ditemukan berbagai produk makanan, pakaian, pernak-pernik khas Indonesia (Jawa). Bahkan ada area khusus yang diperuntukkan bagi produk-produk asli Indonesia di Indonesian Pavilion.

Dalam festival tersebut dihadirkan kelompok musik Keroncong Tugu dari Jakarta, Indonesia. Kelompok ini telah mengisi acara hiburan di Tongtong Festival secara rutin sejak 1989.
Untuk sementara keroncong masih hidup di pasar malam Tongtong Festival. Bagaimanakah kelanjutannya di masa depan di nusantara?

Minggu, 27 Juni 2010

Uniknya Napoli - catatan EM (4)



Napoli adalah kota di Italia selatan. Kota ini tergolong kota besar dengan jumlah penduduk mencapai 1-2 juta jiwa, masih kalah dari Bandung sebetulnya, tapi bagi mereka jumlah itu sudah banyak sekali.

Kota ini dulunya adalah kota koloni Yunani. Napoli berasal dari kata nea-polis yang berarti kota baru. Kota lamanya bernama Parthenopolis. Lokasi pusat kota Parthenopolis dan Neapolis tidaklah berjauhan dan sekarang sudah bergabung menjadi pusat kota Napoli.

Di daerah selatan Italia ini, meskipun ia notabene kota besar, dan bisa disebut sebagai kota 'metropolitan', tapi masih bisa ditemui aktivitas-aktivitas tradisional khas warga setempat. Misalnya, saya sering sekali menemui ibu-ibu, terutama yang agak sepuh, berbelanja melalui tetangganya. Mungkin hal semacam ini bisa ditemui di mana saja.Hal yang unik adalah cara mereka bertukar belanjaan. 

Para ibu yang tinggal di apartemen lantai atas menurunkan keranjang yang diikat tali ke bawah, orang yang dititipi belanjaan kemudian menaruh barang pesanan dalam keranjang tersebut. Ketika transaksi selesai, si ibu pembeli menarik keranjang kembali ke atas, persis kegiatan orang menimba. Untuk tukar informasi mereka cukup saling berteriak satu sama lain. Kepercayaan di antara mereka masih sangat kuat meskipun mereka banyak menaruh curiga terhadap para pendatang. 

Kedua, di sudut-sudut rumah dengan mudah ditemui cekukan di dinding yang dipasangi gambar perawan Maria atau Yesus lengkap dengan lilin dan bunga. Kadang-kadang juga bisa ditemui potret anggota keluarga yang telah meninggal di sisi gambar tadi.

Ketiga, di daerah tempat saya tinggal tahun lalu, setiap minggu pagi datang pengamen. Di Indonesia yang namanya pengamen sih biasa, lalu apa anehnya pengamen Napoli?

Pengamen Napoli ini tidak sendirian. Mereka adalah kelompok drum band yang hanya muncul setiap hari minggu pagi. Di kala ada hari besar, misalnya paskah, kelompok ini menjadi atraksi unik dengan parade solo mereka sambil membawa patung Maria dan memainkan musik-musik tradisional daerah selatan.

Kemudian, hal yang paling menarik adalah jemuran. Jemuran bertebaran di dinding-dinding luar apartemen. Di pusat kota bisa ditemui rentangan jemuran antar gedung. Semua bisa ditemukan di rentangan jemuran itu, mulai dari handuk sampai pakaian dalam.

Di luar kisah mafianya yang terkenal dan slogan menakutkan "kau lihat, kau mati"nya, Napoli memiliki kisah uniknya sendiri. Warganya masih dengan sadar memegang tradisi bersama-sama hingga hari ini.


*Kiriman ulang dari catatan Facebook 14 Juni 2010 jam 0:45

Rabu, 23 Juni 2010

Melantjong ke Rio, mengikis stereotip

Orang-orang mungkin sedang sibuk mencari berita terbaru tentang skor terakhir piala dunia atau kelanjutan kasus video Ariel-Luna-Cut. Di lain pihak berita-berita tentang kebudayaan selalu muncul sekilas dan seperlunya.

Seorang kawan yang saya kenal secara daring, bahkan hingga sekarang belum saya temui di dunia nyata telah menapaki lagi satu anak tangga keberhasilan dengan proyeknya. Tahun lalu ia bertanya padaku tentang program kuliah yang kuikuti. Kemudian ia menginisiasi sebuah kegiatan wisata yang dinamainya Melantjong Petjinan Soerabaia. Di luar dugaan, proyek kecil-kecilan ini mendapat respon positif dan berkembang dengan baik. Ia baru saja kembali dari Rio de Janeiro, Brasil, dalam rangka memenuhi undangan dari UNAoC (United Nation Alliance of Civilization). 

Dalam presentasinya ia menyampaikan bahwa motifnya memulai kegiatan wisata budaya tersebut adalah untuk mengikis stereotip negatif terhadap warga etnis Tionghoa di Indonesia. Ya, Indonesia memang kaya dengan berbagai stereotip. Sayang kebanyakan stereotip maknanya negatif. Saya teringat beberapa tahun lalu di bangku kuliah teman-teman saya sering bercanda tentang stereotip. Misalnya: Jawa identik dengan pembantu, Sunda yang matre, Batak yang kebanyakan berprofesi sebagai sopir angkot di kota saya atau Padang sang pemilik fotokopi dan rumah makan. 

Stereotip tidak selalu benar. Contohnya saya yang keturunan Sunda-Jawa tidak menjadikan saya 'pembantu matre'. Namun harus diakui bahwa stereotip sangat mengganggu aliran komunikasi dan integrasi masyarakat.

Isu stereotip yang sekarang merebak di dunia adalah Islamophobia dengan berbagai aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam. Inilah yang memperburuk nama Islam dan membuat orang luar tidak percaya dengan ajarannya. Belum lagi komunitas Islam keras di tanah air yang kadang mengusik ketertiban umum dan merusak dengan dalih demi penegakan syariah. Saya sendiri yang seorang muslim kadang merasa tidak nyaman dengan aksi mereka yang terkadang agresif. Padahal dulu walisongo pun saling menghormati meski mereka terbagi ke dalam kelompok santri dan abangan. 

Warga Tionghoa Indonesia pun telah hidup dalam stereotip yang diciptakan pemerintah kolonial yang berlanjut hingga setelah kemerdekaan. Di jaman orde baru, segala sesuatu yang berbau China dilarang dengan isu komunisme (ketika itu China inland berubah haluan menjadi negara komunis). Padahal sebagian besar warga Tionghoa Indonesia telah tinggal selama ratusan tahun di tanah air dan secara tidak langsung telah putus hubungannya dengan negara induk. 

Hari ini, warga Tionghoa identik dengan pengusaha kaya. Masyarakat lupa bahwa etnis Tionghoa pun ada kelas rakyat jelata yang hidupnya biasa-biasa saja. Ambillah contoh warga China Benteng di Tangerang. Dua bulan lalu mereka terancam digusur dari tempat tinggalnya tanpa penggantian dari pemerintah. Siapa yang membantu mereka? Entah bagaimana kelanjutan kasus itu, belum sempat saya cari lagi beritanya.

Berkat kepemimpinan almarhum Gus Dur yang pluralis, kebudayaan etnis Tionghoa kembali diakui, bahkan Imlek menjadi salah satu hari besar nasional. Ada baiknya membaca tulisan-tulisan karya T.H.Pigeaud dan H.J. de Graaf, Slamet Muljana, Denys Lombard untuk mempelajari sejarah dan perkembangan etnis Tionghoa di Indonesia.

Stereotip membuat orang kehilangan kepercayaan dan menaruh curiga terhadap hal-hal yang asing baginya dan terjadi karena ketidaktahuan. Pembukaan wawasan budaya dan pengenalan sejarah adalah hal penting untuk memahami sebab akibat dari segala sesuatu yang kita pertanyakan hari ini, dan hal itu juga mendorong masyarakat untuk berpikir lebih kritis tanpa menghakimi.

*Catatan tambahan: Contoh lain usaha mengikis stereotip negatif dilakukan oleh Shah Rukh Khan melalui filmnya "My name is Khan (but I'm not a terrorist)".

Selasa, 08 Juni 2010

Sustainable design vs World Heritage City





Dari sebuah konverensi di kota Cottbus, Jerman, seorang peneliti asal Portugal mengemukakan hasil pengamatannya. Pengamatan ini cukup menggelitik karena menyentuh legitimasi sustainable design atau rancangan berkelanjutan yang didominasi konsep arsitektur hijau terhadap keberlanjutan kota-kota bersejarah.

Pada prinsipnya rancangan berkelanjutan adalah sebuah konsep yang memperhatikan (baca: bertanggung jawab terhadap) keselarasan antara faktor sosial-budaya, ekonomi dan lingkungan. Faktor sosial-budaya dan ekonomi cukup jelas tanpa definisi lebih jauh. Hal yang menjadi permasalahan adalah pemahaman lingkungan. Terkadang ketika mendengar kata lingkungan maka yang terbayang di kepala adalah lingkungan alam. Padahal lingkungan pun bisa berarti lingkungan binaan tempat manusia berada. Pemahaman kedualah yang disoroti oleh peneliti tadi.

Kota-kota bersejarah di dunia, termasuk zona perlindungannya, berada dalam perimeter urban. Ia tidak bisa menghalangi pembangunan berlangsung di sekelilingnya. Di sini kemudian terjadi dilema. Di satu sisi, tanpa pembangunan sebuah kota akan stagnan dan statis. Sebaliknya dengan pembangunan ia akan menjadi lebih hidup. Akan tetapi dengan cara apa membuat sebuah kota (bersejarah) tetap hidup dengan mempertahankan nilai-nilai keunikannya di tengah pembangunan yang berlangsung?

Jawabannya mungkin terletak pada konsep sustainable design tadi. Namun seperti dijelaskan di atas, konsep sustainable design ini lebih terpaku pada pemahaman keberlanjutan untuk lingkungan alam sehingga tidak terlalu memperhatikan konteks keberlanjutan dari aspek kesejarahan. Dengan kata lain, sebuah kota tua yang dipenetrasi  satu rancangan, katakanlah green design yang sedang populer, tentu akan mengubah wajah kota tersebut baik secara total maupun sebagian. Dengan terjadinya perubahan ini tentu keberlanjutan kota tua tersebut terganggu oleh makhluk yang baru datang. Sehingga dikatakan oleh peneliti Portugal ini bahwa rancangan berkelanjutan atau sustainable design yang seharusnya meningkatkan nilai keunikan suatu kota tua (bersejarah) justru malah mengancam keberlanjutannya.

Sang peneliti mengambil contoh kota tua di Eropa, apakah pengunjung, dan tentunya warga mengharapkan gambaran kota tuanya seperti sekarang? atau dengan berbagai bentuk tambahan dari arsitektur-arsitektur baru dengan bentuk beragam? 
Sekarang mengambil contoh di Indonesia, apakah kita ingin melihat Yogya yang berkraton dengan skala bangunan rendah dengan semua peninggalan bersejarahnya? atau Yogya metropolitan dengan arsitektur kontemporer berbagai bentuk, warna dan ketinggian? Yang manakah wajah Yogya yang paling baik? Manakah wajah Yogya yang kita inginkan?